Surabaya (beritajatim.com) – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) terus mempertegas posisinya sebagai pionir green port di Indonesia. Tak sekadar mengejar angka performa operasional, anak usaha Pelindo ini resmi menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Kebun Raya Purwodadi untuk menginisiasi peningkatan keanekaragaman hayati di kawasan pelabuhan pada Rabu (22/4/2026).
Langkah strategis ini bukan sekadar penghijauan biasa. Melalui pertemuan yang digelar di Kantor Utama TTL, kedua belah pihak sepakat mengintegrasikan solusi ilmiah berbasis riset guna memperkuat konservasi alam di area pelabuhan yang dikenal dengan aktivitas logistiknya yang padat.
Kolaborasi ini akan berfokus pada pendekatan *eco-engineering*. Artinya, pemilihan tanaman dan pengelolaan ekosistem tidak dilakukan secara sembarang, melainkan berdasarkan kajian mendalam terhadap kondisi pesisir.
Beberapa poin utama dalam sinergi ini meliputi:
* Restorasi Ekosistem: Penguatan kawasan mangrove dan penanaman pohon anti-polutan untuk menyerap emisi karbon secara maksimal.
* Metodologi Ilmiah: Pengembangan sistem penghitungan karbon berbasis vegetasi serta pemetaan area konservasi prioritas.
* Edukasi & Strategi: Penyusunan langkah jangka panjang untuk menjaga keberlangsungan flora dan fauna di lingkungan kerja.
Sekretaris Perusahaan PT Terminal Teluk Lamong, Syaiful Anam, menegaskan bahwa pelabuhan masa depan harus mampu hidup berdampingan dengan alam.
“Kami percaya pelabuhan masa depan tidak hanya berorientasi pada kinerja operasional, tetapi juga selaras dengan keberlanjutan ekosistem. Sinergi dengan Kebun Raya Purwodadi diharapkan mampu menghadirkan solusi ilmiah yang aplikatif,” ujar Syaiful.
Selain aspek vegetasi, TTL telah menerapkan teknologi untuk menekan polusi di area kerja. Salah satunya adalah Terminal Booking System (TBS), sebuah sistem pengaturan kedatangan truk yang terbukti efektif mencegah kepadatan antrean, sehingga meminimalisir polusi karbon dari gas buang kendaraan.
Konsistensi dalam penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ini menjadi senjata utama TTL dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.
Tim peneliti dari Kebun Raya Purwodadi juga sempat meninjau langsung Greenhouse milik TTL. Kawasan ini merupakan pusat pembibitan berbagai jenis tanaman, mulai dari tanaman hias, pohon buah, hingga vegetasi khusus penyerap polutan yang tersebar di sepanjang area pelabuhan.
Titut Yulistyarini, perwakilan Tim Peneliti Kebun Raya Purwodadi, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, dukungan data dan inovasi teknologi adalah kunci pengelolaan lingkungan di pelabuhan.
“Kami akan melakukan kajian komprehensif terhadap jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan di Terminal Teluk Lamong, termasuk menghitung potensi serapan karbonnya,” tutup Titut.[rea]






