Banyuwangi (beritajatim.com) – Fenomena El Nino yang diprediksi melanda Indonesia pada 2026 mulai memicu kewaspadaan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dampaknya berupa musim kemarau yang lebih panjang dan panas berpotensi memicu krisis air di sejumlah wilayah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi mencatat sedikitnya 11 kecamatan masuk dalam kategori risiko tinggi kekeringan akibat dampak El Nino.
Kalaksa BPBD Banyuwangi, Partana, mengatakan pihaknya telah melakukan pemetaan wilayah berdasarkan tingkat kerawanan kekeringan sebagai langkah mitigasi dini.
“Untuk kluster risiko tinggi kekeringan terdapat 11 kecamatan, kemudian sedang ada 4 kecamatan, sedangkan kluster rendah ada 10 kecamatan,” ujarnya.
Sebanyak 11 kecamatan dengan risiko tinggi meliputi Wongsorejo, Blimbingsari, Singojuruh, Kabat, Gambiran, Siliragung, Muncar, Purwoharjo, Bangorejo, Pesanggaran, dan Tegaldlimo.
Sementara itu, wilayah dengan risiko sedang mencakup empat kecamatan, yakni Glagah, Kalipuro, Giri, dan Cluring.
Adapun 10 kecamatan yang masuk kategori risiko rendah adalah Banyuwangi, Rogojampi, Tegalsari, Srono, Songgon, Glenmore, Genteng, Licin, Kalibaru, dan Sempu.
Fenomena El Nino sendiri merupakan kondisi pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur di atas normal. Kondisi ini menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan, yang berujung pada musim kemarau lebih kering dan berkepanjangan.
Partana menambahkan, pemetaan tersebut mengacu pada pengalaman El Nino ekstrem yang pernah terjadi sebelumnya, khususnya pada tahun 2015 dan 2023.
“Wilayah klaster tinggi itu terbilang makin meluas tahun ini, karena bisa dibilang ketersediaan air semakin menyusut,” pungkasnya.
BPBD mengimbau masyarakat untuk mulai mengantisipasi dampak kekeringan dengan menghemat penggunaan air serta memanfaatkan sumber air alternatif guna menghadapi potensi kemarau panjang tahun ini. [alr/beq]






