Blitar (beritajatim.com) – Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) memperkuat komitmen kolaborasi dengan pemerintah dalam mendukung program peningkatan gizi nasional melalui penguatan sektor peternakan unggas, khususnya produksi telur di Blitar.
Sebagai salah satu sentra unggas nasional, sekitar 60–70 persen praktisi dokter hewan di Blitar bergerak di sektor perunggasan. Kondisi ini mendorong pergeseran pendekatan dari kuratif (pengobatan) menjadi preventif (pencegahan) yang lebih komprehensif.
Ketua PDHI Jawa Timur wilayah Blitar, Riris Dian W. Wahyu, menegaskan bahwa tren kedokteran hewan saat ini berfokus pada mitigasi risiko sejak dini guna memastikan produktivitas ternak tetap optimal.
“Fokus kita adalah pencegahan penyakit. Jika produksi meningkat, maka tingkat ekonomi di Kabupaten dan Kota Blitar juga akan ikut terangkat,” ujarnya.
Dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), PDHI mengambil peran penting dalam menjaga kualitas protein hewani sejak dari hulu. Pengawasan dilakukan mulai dari kesehatan unggas di kandang hingga produk telur sampai ke konsumen.
Langkah tersebut mencakup pengendalian penyakit di kandang, menjaga stabilitas populasi ternak agar tidak terpapar wabah, serta memastikan produk bebas dari penyakit zoonosis maupun non-zoonosis.
“Kita punya tugas untuk memastikan bahwa makanan yang dihasilkan unggas atau hewan lain benar-benar berkualitas dan sehat,” tegasnya.
Isu lain yang menjadi perhatian adalah penggunaan antibiotik pada ternak. PDHI berupaya memperketat penggunaan antibiotik untuk mencegah residu berbahaya pada produk unggas.
“Kami memperketat penggunaan antibiotik agar dalam 10 hingga 60 tahun ke depan, residu ini tidak memberikan dampak negatif bagi generasi penerus bangsa,” tambahnya.
Untuk mendukung profesionalisme dan tata kelola obat hewan, muncul wacana pengembangan Apotek Veteriner di Blitar. Hal ini didorong oleh fakta di lapangan bahwa sebagian besar obat yang digunakan dalam peternakan unggas masih berasal dari obat manusia.
Kolaborasi antara PDHI dan Pemerintah Kabupaten Blitar pun mulai dijajaki untuk merealisasikan hal tersebut.
Wakil Bupati Blitar, Beky Herdihansah, menyatakan dukungannya terhadap rencana tersebut. Menurutnya, sebagai daerah penyumbang sekitar 35 persen produksi telur nasional, Blitar membutuhkan fasilitas Apotek Veteriner.
“Para dokter hewan ini diharapkan nanti bisa memiliki apotek hewan Apotek Veteriner, jadi dengan dukungan Pemkab Blitar mudah-mudahan bisa dapat dimunculkan dalam waktu yang tidak lama lagi,” ujarnya. [tin/beq]






