Mojokerto (beritajatim.com) – Perkembangan harga di Kabupaten Mojokerto pada Maret 2026 mengalami kenaikan tipis dengan Indeks Fluktuasi Harga (IFH) sebesar 0,09 persen, dipicu oleh lonjakan harga BBM non-subsidi dan sejumlah komoditas pangan.
Kepala Bappeda Kabupaten Mojokerto, Bambang Eko Wahyudi, mengatakan meski terjadi kenaikan, kondisi harga secara umum masih terkendali dan dalam batas wajar.
“Namun tetap perlu menjadi perhatian karena dipicu oleh komoditas yang cukup sensitif terhadap perubahan. Kenaikan harga di Mojokerto didorong oleh enam kelompok pengeluaran utama, yakni mamin, pakaian, perumahan, energi, perlengkapan rumah tangga, kesehatan serta transportasi,” ungkapnya, Kamis (9/4/2026).
Ia menjelaskan, faktor utama yang mendorong kenaikan IFH adalah naiknya harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax, yang berdampak langsung pada biaya transportasi dan distribusi barang.
“Kenaikan harga Pertamax berdampak langsung terhadap biaya transportasi dan distribusi, yang kemudian ikut mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas lainnya. Selain BBM, sejumlah bahan pangan juga turut menyumbang kenaikan harga. Di antaranya cabai, daging ayam ras, telur ayam ras dan minyak goreng,” katanya.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga dan membantu menahan laju inflasi. Komoditas tersebut antara lain emas perhiasan, bawang merah, ayam hidup, wortel, serta buah-buahan seperti anggur dan salak.
Menurut Bambang, penurunan harga emas perhiasan cukup berpengaruh sebagai penahan inflasi, yang dipicu oleh melemahnya harga emas global serta menurunnya minat investasi masyarakat.
Secara kumulatif, IFH Kabupaten Mojokerto sejak Januari hingga Maret 2026 tercatat sebesar 0,10 persen, sementara secara tahunan mencapai 1,11 persen.
Pemerintah Kabupaten Mojokerto memastikan akan terus melakukan pemantauan harga dan koordinasi dengan berbagai pihak untuk menjaga stabilitas harga serta daya beli masyarakat. [tin/beq]






