Ngawi (beritajatim.com) — Kinerja sektor pertanian Kabupaten Ngawi menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Angka Tetap (ATAP) Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, produksi padi Ngawi mencapai 772.571 ton Gabah Kering Giling (GKG), naik dibanding tahun sebelumnya.
Data tersebut juga mencatat, Ngawi menyumbang sekitar 7 persen produksi padi Jawa Timur dan menempati peringkat ketiga setelah Lamongan dan Bojonegoro. Peningkatan produksi tercatat sebesar 6.867 ton GKG dibanding 2024.
“Kenaikan produksi ini sejalan dengan bertambahnya luas panen. Pada 2025, luas panen mencapai 129.013 hektare, meningkat dari 123.076 hektare pada 2024. Sementara produksi beras turut naik menjadi 446.098 ton,” terang Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko, saat hadir dalam Panen Perdana di Desa Baderan, Geneng, Ngawi, Sabtu (4/4/2026)
Di sisi produktivitas, Ngawi mencatat capaian menonjol. Produktivitas padi mencapai 5,99 ton GKG per hektare, tertinggi di Jawa Timur. Selain itu, Indeks Pertanaman (IP) juga menjadi yang tertinggi dengan angka 2,59, menunjukkan intensitas tanam yang tinggi sepanjang tahun.
Meski demikian, luas baku sawah (LBS) Ngawi sebesar 49.622 hektare masih berada di posisi keenam di Jawa Timur. Namun, tingginya produktivitas membuat daerah ini tetap mampu bersaing sebagai salah satu penyumbang produksi padi terbesar di provinsi tersebut.
Pemerintah daerah terus mendorong peningkatan kinerja sektor pertanian melalui berbagai program strategis. Salah satunya melalui penerapan Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB) dan program Electricity for Farming. Hingga 2025, capaian lahan PRLB telah mencapai 27.397 hektare atau sekitar 55 persen dari total LBS, dan ditargetkan meningkat menjadi 35.000 hektare pada 2026.
Selain itu, modernisasi irigasi, pengendalian hama terpadu, serta mitigasi dampak perubahan iklim menjadi fokus penguatan sektor pertanian ke depan. Upaya ini dilakukan untuk menjaga produktivitas di tengah tantangan berkurangnya luasan lahan dan tekanan terhadap sumber daya air.
Untuk tahun 2026, potensi produksi padi juga diproyeksikan meningkat. Pada periode triwulan I (Januari–Maret), produksi diperkirakan mencapai 195.620 ton GKG, naik sekitar 7.037 ton dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara pada triwulan II (April–Juni), total potensi luas panen diperkirakan mencapai 29.553 hektare dengan produksi sekitar 183.667 ton GKG.
Pemerintah menilai potensi tersebut perlu dioptimalkan, termasuk melalui penyerapan gabah oleh Bulog guna menjaga stabilitas harga dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Ke depan, sinergi antara pemerintah daerah, dinas pertanian, BPS, Bulog, serta sektor swasta dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan produksi. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi Ngawi sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Timur maupun nasional. [fiq/ted]






