Mojokerto (beritajatim.com) – Hilal penentu 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idulfitri tidak terlihat saat pemantauan di Pusat Observasi Bulan (POB) Masjid Agung Darussalam, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Hasil pengamatan menunjukkan posisi hilal masih berada di bawah ufuk sehingga tidak dapat dirukyat.
Pemantauan dilakukan oleh tim perukyat dari Lembaga Falakiyah PCNU Kabupaten Mojokerto di lokasi berketinggian sekitar 50 meter di atas permukaan laut dengan koordinat lintang -7° 31′ 46.7″ LS dan bujur 112° 24′ 32.5″ BT. Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi cuaca pada sore hari cukup cerah.
Sekitar 15 anggota tim rukyat diterjunkan dengan menggunakan sejumlah peralatan, seperti teleskop, gawang lokasi, serta teodolit untuk membantu proses pengamatan hilal. Namun, hasil pengamatan tim rukyat diketahui bahwa hilal tidak terlihat.
Ketua Lembaga Falakiyah PCNU Kabupaten Mojokerto, Syamsudin, menjelaskan hilal tidak terlihat karena ketinggiannya masih terlalu rendah dan berada di bawah batas minimal visibilitas. “Hilal kemungkinan tidak terlihat dengan elongasi sekitar 5° 33′ 30″. Tinggi hilal minimal 3 derajat, sedangkan di sini tadi hanya sekitar 1° 19′ 28′. Jadi posisinya masih terlalu rendah,” ungkapnya, Kamis (19/3/2026).
Berdasarkan hasil tersebut, pihaknya memprediksi Hari Raya Idulfitri berpotensi jatuh pada Sabtu. Namun demikian, keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama RI.
Hasil rukyatul hilal dari Kabupaten Mojokerto ini selanjutnya akan dilaporkan ke instansi terkait. “Hasil ini akan kami laporkan ke Kantor Kemenag Mojokerto, Pengadilan Agama setempat, serta Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur sebelum diteruskan ke tingkat pusat sebagai bahan pertimbangan dalam penetapan awal 1 Syawal 1447 H,” pungkasnya. [tin/kun]






