Gresik (beritajatim.com) – Upaya pemantauan hilal untuk menentukan awal 1 Syawal 1447 Hijriah di Bukit Condrodipo, Gresik, Jawa Timur, tidak membuahkan hasil. Tim rukyatul hilal Lembaga Falakiyah PCNU setempat yang melakukan pengamatan pada sore hari melaporkan bahwa hilal sampai pukul 17.46 WIB tidak terlihat akibat kondisi cuaca dan posisi bulan yang sulit diamati.
Pengamatan yang dilakukan di salah satu titik strategis di wilayah Gresik tersebut melibatkan petugas dari Kementerian Agama (Kemenag), ahli falak, serta perwakilan organisasi masyarakat Islam. Sejak menjelang matahari terbenam, langit di sekitar lokasi terpantau berawan sehingga menghambat visibilitas hilal.
“Berdasarkan hasil rukyat di Bukit Condrodipo Gresik, hilal tidak berhasil terlihat,” ujar Ketua LFNU Gresik, Muchyiddin Hasan, Kamis (19/3/2026).
Secara astronomis, posisi hilal pada hari ini juga dilaporkan masih berada pada ketinggian yang rendah sehingga menyulitkan proses pengamatan, meskipun menggunakan alat bantu optik seperti teleskop.
Hasil rukyat dari Gresik ini nantinya akan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam sidang isbat yang digelar pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag). Sidang tersebut akan menentukan secara resmi kapan Hari Raya Idul Fitri 1447 H dirayakan oleh umat Islam di Indonesia.
Jika hilal tidak terlihat di seluruh wilayah pemantauan di Indonesia, maka kemungkinan besar bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal). Dengan demikian, Idul Fitri berpotensi jatuh pada hari berikutnya.
Pemantauan hilal di berbagai daerah, termasuk di Bukit Condrodipo Gresik, merupakan bagian penting dalam proses penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia yang mengombinasikan metode rukyat dan hisab. [dny/kun]






