Surabaya (beritajatim.com) — Inovasi pangan fungsional berbasis bahan lokal kembali lahir dari kalangan mahasiswa. Kali ini, lima mahasiswa Universitas Kristen Petra Surabaya memperkenalkan GO! MAJA, minuman probiotik berbasis Greek yoghurt yang memanfaatkan ekstrak buah maja (Aegle marmelos). Produk ini hadir sebagai alternatif minuman sehat yang tidak hanya menawarkan manfaat probiotik, tetapi juga mengangkat potensi biodiversitas lokal yang selama ini kurang dimanfaatkan.
Berbeda dengan yoghurt komersial yang umumnya mengandalkan varian rasa buah populer seperti stroberi atau mangga, GO! MAJA justru menjadikan karakter khas buah maja sebagai daya tarik utama. Inovasi ini lahir dari keberanian tim pengembang untuk mengubah stigma masyarakat terhadap buah maja yang kerap dianggap pahit dan tidak layak konsumsi.
Di bawah bimbingan David Kristanto, dosen School of Business and Management UK Petra, produk ini dikembangkan melalui pendekatan ilmiah sekaligus riset pasar. Menurut David, keunggulan utama GO! MAJA terletak pada komposisi formulanya.
“Greek yoghurt dipadukan dengan sirup dan jelly yang dibuat dari sari buah maja murni. Formulasi ini telah melalui pengujian laboratorium yang mengacu pada berbagai jurnal kesehatan terpublikasi. Hasilnya secara ilmiah menunjukkan bahwa sari buah maja memiliki potensi meningkatkan imunitas tubuh, menangkal radikal bebas, serta membantu menjaga kesehatan jantung dan sistem pencernaan,” jelasnya.
Salah satu tantangan utama dalam mengolah buah maja adalah karakteristik rasa pahit yang meninggalkan after-taste kuat. Kondisi ini selama bertahun-tahun menjadi alasan mengapa buah tersebut jarang dikonsumsi secara langsung oleh masyarakat.
Namun, tim GO! MAJA berhasil menemukan solusi melalui teknik fermentasi khusus. Proses fermentasi dilakukan selama tiga hari untuk menekan rasa pahit alami buah tersebut tanpa menghilangkan kandungan nutrisinya. Teknik ini membuat cita rasa maja menjadi lebih seimbang dan segar ketika dipadukan dengan tekstur lembut Greek yoghurt.
Hasilnya adalah minuman probiotik dengan profil rasa unik—tidak terlalu manis, tetapi tetap segar dan nyaman di lidah konsumen. Kombinasi tersebut sekaligus membuktikan bahwa bahan pangan lokal yang selama ini terabaikan dapat diolah menjadi produk kesehatan bernilai tinggi.
GO! MAJA sendiri diproduksi melalui proses pengolahan selama empat hari. Produk ini mengusung tagline “Start Your Healthy Move”, yang mencerminkan misi tim untuk mengajak masyarakat memulai gaya hidup sehat melalui pilihan konsumsi yang lebih baik.
Meski masih tergolong produk baru, respons pasar awal menunjukkan antusiasme positif. Dalam tahap uji pasar di lingkungan kampus UK Petra, sebanyak 120 pouch GO! MAJA berhasil terjual dalam waktu singkat.
Minuman probiotik ini dipasarkan dengan harga terjangkau, yakni Rp5.000 per kemasan berukuran 50 ml. Awalnya, produk ini dikembangkan sebagai bagian dari persiapan mengikuti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dari Kemendiktisaintek yang dijadwalkan berlangsung pada April 2026. Namun melihat potensi pasar yang cukup besar, tim pengembang kini mulai mempertimbangkan untuk mengembangkan bisnis GO! MAJA secara komersial.
Inovasi ini digagas oleh tim mahasiswa lintas disiplin di UK Petra, yakni Ardan Rezon Prasetio dari Business Management, Audrey Hadara Wattimena dari Desain Komunikasi Visual, Aurelia Callysta dari Branding and Digital Marketing, Fedilia Yanson Widio dari Culinary Business Management, serta Samuel Jason Liwanto Lie dari Branding and Digital Marketing.
Ketua tim GO! MAJA, Ardan Rezon Prasetio, menjelaskan bahwa ide pengembangan produk ini berangkat dari riset tentang potensi kesehatan buah maja yang belum banyak dimanfaatkan secara modern.
“Kami ingin mengubah persepsi publik bahwa buah maja yang sering dianggap tidak menarik sebenarnya adalah ‘harta karun’ kesehatan. Kandungan senyawa seperti lektin dan quercetin di dalamnya berpotensi membantu melindungi dinding lambung, terutama saat pola makan masyarakat berubah drastis, seperti pada momen Lebaran,” ujar Ardan.
Fenomena tersebut memang sering terjadi di Indonesia. Menjelang dan setelah Idulfitri, masyarakat umumnya mengonsumsi makanan bersantan, tinggi gula, dan berlemak. Pola makan yang berubah secara tiba-tiba ini kerap memicu gangguan pencernaan.
Melihat kondisi tersebut, GO! MAJA diharapkan dapat menjadi solusi minuman probiotik yang membantu menjaga keseimbangan sistem pencernaan sekaligus memberikan manfaat kesehatan tambahan.
David Kristanto berharap inovasi berbasis fermentasi ini tidak hanya berhenti sebagai proyek mahasiswa, tetapi juga dapat berkembang menjadi produk yang memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Melalui pengembangan yoghurt berbahan buah maja ini, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi pangan lokal bisa memberikan nilai gizi sekaligus nilai ekonomi. Bahan pangan yang selama ini dianggap kurang bernilai justru dapat diolah menjadi produk kesehatan yang memiliki potensi pasar,” pungkasnya.
Jika dikembangkan secara berkelanjutan, GO! MAJA berpotensi menjadi contoh bagaimana riset mahasiswa mampu menghadirkan solusi pangan sehat, sekaligus mendorong pemanfaatan kekayaan biodiversitas Indonesia secara lebih optimal. (fyi/ian)






