Mojokerto (beritajatim.com) – Indeks Fluktuasi Harga (IFH) di Kabupaten Mojokerto pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,41 persen. Angka tersebut menunjukkan adanya kecenderungan kenaikan harga sejumlah komoditas kebutuhan masyarakat, terutama pada cabai rawit.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mojokerto, Bambang Eko Wahyudi mengatakan, kenaikan IFH tersebut dipengaruhi oleh beberapa kelompok pengeluaran yang mengalami peningkatan harga.
“Kelompok yang memberikan andil kenaikan harga antara lain makanan, minuman, dan tembakau, pakaian dan alas kaki, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga serta perawatan pribadi dan jasa lainnya,” ungkapnya, Rabu (11/3/2026).
Sementara itu, terdapat dua kelompok pengeluaran yang justru memberikan kontribusi terhadap penurunan harga, yakni kelompok kesehatan dan transportasi. Adapun lima kelompok pengeluaran lainnya relatif stabil tanpa perubahan harga signifikan.
Seperti perlengkapan rumah tangga, informasi dan komunikasi, rekreasi dan budaya, pendidikan, serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran. Bambang menjelaskan, secara kumulatif IFH Kabupaten Mojokerto pada periode Januari hingga Februari 2026 tercatat sebesar 0,01 persen.
“Sedangkan secara tahunan atau year-on-year (YoY) pada periode Februari 2025 hingga Februari 2026 tercatat sebesar 2,09 persen. Ini menunjukkan bahwa secara umum fluktuasi harga masih dalam kondisi relatif terkendali meskipun terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan,” jelasnya.
Beberapa komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan harga pada Februari 2026. Diantaranya cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, telur ayam ras, beras, mi instan kering, tomat sayur, cabai merah, ayam hidup, serta wortel.
Di sisi lain, sejumlah komoditas tercatat mengalami penurunan harga dibandingkan bulan sebelumnya, seperti bensin, minyak goreng, masker, solar, bawang merah, bawang putih, udang basah, kol putih atau kubis, dan cumi-cumi.
Menurut Bambang, kenaikan IFH pada Februari terutama dipicu oleh lonjakan harga cabai rawit. Hal ini terjadi akibat berkurangnya pasokan karena curah hujan tinggi yang mengganggu produksi di sentra pertanian serta kendala distribusi.
“Selain itu, faktor musiman selama Ramadan juga turut meningkatkan permintaan masyarakat, khususnya untuk kebutuhan rumah tangga dan usaha kuliner. Peningkatan konsumsi selama Ramadan membuat permintaan naik, sementara pasokan tidak selalu seimbang,” ujarnya.
Kondisi ini memicu kenaikan harga beberapa komoditas di pasar. Sementara itu, komoditas yang paling berkontribusi terhadap penurunan IFH adalah bensin. Penurunan harga tersebut dipicu penyesuaian harga bahan bakar minyak di dalam negeri sebagai bagian dari kebijakan stabilisasi harga energi.
“Pemerintah Kabupaten Mojokerto terus memantau perkembangan harga komoditas strategis guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, terutama menjelang dan selama Ramadan,” tegasnya. [tin/ian]






