Probolinggo (beritajatim.com) – Lomba musik patrol yang digelar Pemerintah Kota Probolinggo pada 1–3 Maret 2026 di GOR Ahmad Yani (Sentra Kuliner) bukan sekadar agenda seremonial Ramadhan. Di balik dentuman kentongan dan irama khas patrol, ada pesan kuat: tradisi tak boleh kalah oleh zaman.
Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, menjadikan lomba ini sebagai bagian dari program 100 event per tahun. Namun lebih dari itu, kegiatan ini diarahkan sebagai upaya konkret menjaga eksistensi musik patrol di tengah gempuran budaya modern dan dominasi hiburan digital.
Di era ketika generasi muda lebih akrab dengan layar gawai ketimbang alat musik tradisional, ruang-ruang ekspresi budaya lokal kian terdesak. Musik modern, media sosial, dan platform digital menghadirkan hiburan instan yang perlahan menggeser tradisi. Lomba patrol ini hadir sebagai panggung tanding—membuktikan bahwa kesenian tradisional tetap relevan dan mampu beradaptasi.
Event Organizer, Elok Hanifah, dari Tropis Media Plan, menegaskan bahwa lomba ini menjadi wadah regenerasi sekaligus ruang kreativitas anak muda.
“Harapan paling mendasar adalah agar kesenian tradisional tidak luntur ditelan zaman. Di tengah gempuran musik modern dan gadget, lomba ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk tetap mencintai dan mengembangkan budaya sendiri,” ujarnya Elok.
Sebanyak delapan grup dari Probolinggo Raya tampil dengan aransemen dan koreografi yang variatif. Penilaian dilakukan secara ketat oleh dewan juri—Ustaz Faiz dan Ustaz Saihu—dengan tiga aspek utama: musikalitas, kreativitas, dan penampilan. Artinya, yang diuji bukan hanya kemampuan memukul alat, tetapi juga inovasi tanpa meninggalkan pakem tradisi.
Dari ajang ini, Lanceng Sonar keluar sebagai Juara 1, disusul Cokro Budoyo dan Muhibbil Mustofa. Namun kemenangan sejatinya bukan hanya milik para juara, melainkan milik tradisi itu sendiri yang kembali mendapat ruang di tengah arus digitalisasi.
Jika konsisten digelar dan dikembangkan, lomba patrol semacam ini bukan hanya menjaga eksistensi budaya, tetapi juga membangun kebanggaan lokal—bahwa di tengah modernitas, Kota Probolinggo tetap teguh memelihara akar tradisinya. (ada/aje)






