Pasuruan (beritajatim.com) – Kabupaten Pasuruan kini dihadapkan pada ancaman krisis tempat pembuangan akhir seiring melonjaknya volume sampah tahunan yang menembus angka 428.850,11 ton. Saat ini, operasional penampungan hanya bertumpu sepenuhnya pada TPA Wonokerto yang terletak di Kecamatan Sukorejo setelah fasilitas di Desa Kenep berhenti berfungsi.
Kondisi satu unit TPA untuk melayani luasnya wilayah kabupaten dianggap sangat berisiko bagi keberlangsungan kebersihan lingkungan jangka panjang. Kesenjangan antara jumlah timbulan sampah yang masif dengan keterbatasan sarana prasarana penunjang menjadi sorotan utama dalam rencana kerja pemerintah daerah.
“TPA kita itu paling banyak melayani lima hingga enam kecamatan, seperti Bangil, Pandaan, Gempol, Prigen, dan Sukorejo,” ujar Kepala DLH Kabupaten Pasuruan, M. Nur Kholis.
Kecamatan-kecamatan padat penduduk tersebut menjadi penyumbang utama beban limbah yang masuk ke TPA Wonokerto setiap harinya. Meskipun terdapat pengambilan sampah dari wilayah lain seperti Kecamatan Kraton, volumenya dinilai belum signifikan dibandingkan lima wilayah prioritas tersebut.
Minimnya keterjangkauan layanan ke seluruh kecamatan membuat pihak Dinas Lingkungan Hidup mulai merancang strategi pengurangan sampah langsung dari sumbernya. Program ini mendesak untuk segera diimplementasikan guna memperpanjang masa pakai lahan pembuangan yang tersisa di Wonokerto.
“Kami mengimbau karyawan untuk membawa tumbler sendiri agar tidak menggunakan kemasan plastik sekali pakai,” jelas Nur Kholis saat memaparkan langkah preventif pengurangan limbah.
Gerakan membawa botol minum sendiri ini diharapkan dapat menekan produksi sampah plastik secara signifikan di lingkungan perkantoran pemerintah maupun swasta. Selain menyasar aparatur sipil negara, sosialisasi mengenai pembatasan penggunaan bahan sekali pakai juga mulai digencarkan kepada masyarakat luas.
Transformasi budaya dalam mengelola sampah secara mandiri menjadi kunci agar beban TPA satu-satunya di Pasuruan tidak mengalami kelebihan kapasitas dalam waktu dekat. Perubahan pola pikir masyarakat untuk memilah dan mengurangi sampah sejak dari rumah diharapkan mampu memperbaiki kualitas tata ruang wilayah secara berkelanjutan. (ada/but)






