Jakarta (beritajatim.com)–Langkah maju dilakukan Pemerintah Indonesia. Sebanyak 2.280 ton beras senilai Rp150 miliar segera diekspor ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan jemaah haji Indonesia tahun ini.
Ekspor beras ke Saudi itu merupakan pertama kalinya dilakukan. Selama ini, beras yang beredar dan dikonsumsi banyak kalangan di Saudi sebagian besar berasal dari Thailand dan Vietnam.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), mengatakan Indonesia akan mengekspor beras ke Arab Saudi khusus untuk keperluan jemaah haji. Volume ekspor pada periode haji tahun ini ditetapkan sebanyak 2.280 ton.
“Perdana ya, untuk perdana ini kira-kira 2.280 ton, nanti lanjut akan Malaysia dan lain-lain. Tanggal 28 Februari (2026) ini kira-kira sudah akan diberangkatkan,” kata Zulhas di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026 mengutip Himpuh.or.id, Selasa (24/2/2026).
Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan, nilai ekspor beras tersebut mencapai Rp150 miliar.
Pengapalan dilakukan dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Jeddah, dengan tanggung jawab pengurusan di pelabuhan tujuan berada pada pihak importir. “Sampai di Pelabuhan Jeddah itu ditanggung oleh importir, ada dua importir. Angkanya sekitar Rp150 miliar (2.280 ton),” jelas Rizal.
Pengiriman dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama dijadwalkan pada 28 Februari untuk memenuhi kebutuhan petugas haji yang lebih awal tiba. Tahap kedua direncanakan pada 4 Maret 2026. Rizal menyebut waktu tempuh pengapalan berkisar satu bulan satu minggu hingga satu bulan setengah.
Bulog juga sedang mematangkan rencana pembangunan gudang beras di Arab Saudi. Rizal mengungkapkan survei lahan telah dilakukan di kawasan Kampung Haji, dengan luas sekitar 2–3 hektar dan kapasitas minimal 1.000 ton.
“Belum di-landclearing, (tempatnya) di Kampung Haji, nanti menjadi kawasan berikat rencananya. Jadi kawasan berikat jadi itu tidak kena pajak, lebih cepat lagi bagus. Ya minimal 1.000 ton satu gudang,” tambahnya.
Rizal mengusulkan agar Bulog memiliki gudang permanen di Arab Saudi untuk menopang suplai pangan secara berkelanjutan. Menurutnya, selama Indonesia berada dalam kondisi swasembada pangan, ekspor beras untuk kebutuhan haji berpeluang terus dilakukan.
Dengan pola itu, Indonesia diharapkan tidak lagi bergantung pada beras dari Thailand dan Vietnam untuk konsumsi jemaah haji. “Kami sudah koordinasi dengan Pak Menteri Haji, kami mohon diberikan space di Kampung Haji,” ujarnya.
“Kalau nanti diizinkan, untuk bisa bangun gudang Bulog di sana. Sehingga nanti beras dan daging kita, ikan-ikan kita bisa kita simpan di gudang Bulog yang di Kampung Haji,” katanya.
BinDawood dan LuLu Hypermarket
Minat pasar Arab Saudi terhadap beras Indonesia juga tercermin dari ketertarikan dua jaringan ritel besar di sana: BinDawood dan LuLu Hypermarket. Keduanya disebut telah mengonfirmasi kesiapan menyerap beras asal Indonesia, khususnya pada periode haji.
Beras Indonesia dinilai diminati masyarakat setempat, seiring tingginya jumlah warga Indonesia yang berkunjung ke Tanah Suci setiap tahun, dengan estimasi mencapai 2 juta orang.
“Di antaranya untuk ritel-ritel modern yang sudah konfirmasi adalah dari BinDawood dan LuLu. Ini sudah konfirmasi dan akan menyerap beras kita dalam waktu dekat setelah kegiatan musim haji,” tegas Rizal. [air]






