Bondowoso (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bondowoso melaporkan sedikitnya 11 titik bencana hidrometeorologi melanda wilayah setempat akibat cuaca ekstrem pada Senin (23/2/2026). Serangkaian bencana berupa tanah longsor, luapan air, hingga kerusakan bangunan terpantau terjadi hampir bersamaan di tujuh kecamatan sejak pagi hingga sore hari.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD, dampak cuaca ekstrem ini tersebar merata di Kecamatan Ijen, Binakal, Tegalampel, Bondowoso Kota, Curahdami, Grujugan, hingga Wringin. Intensitas hujan yang tinggi memicu pergerakan tanah di Desa Kali Gedang, Desa Purnama, Desa Gadingsari, serta Desa Sumber Tengah.
Di Desa Sumber Tengah dan Dusun Biser Timur, material longsor dilaporkan menghantam dua rumah warga hingga mengalami kerusakan. Sementara itu, cuaca ekstrem di Desa Pancoran, Kecamatan Bondowoso, mengakibatkan satu unit rumah warga rusak berat hingga rata dengan tanah.
Selain kerusakan bangunan, luapan air dilaporkan masuk ke pemukiman di Desa Jeruksok 2, Gang Malabar Kelurahan Kotakulon, serta Desa Taman. Kondisi serupa terjadi di Dam Selolembu, Kecamatan Curahdami, di mana debit air yang meningkat mulai mengancam hunian di sekitarnya.
Fasilitas publik juga terdampak dengan amblesnya Jembatan Nangkaan pada bagian yang sebelumnya telah mengalami keretakan. Sebagai langkah antisipasi, petugas telah memasang garis polisi di lokasi jembatan untuk mencegah adanya korban jiwa maupun kecelakaan lalu lintas.
Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, menjelaskan bahwa sebagian besar titik bencana saat ini telah ditangani secara kolaboratif oleh warga dan aparat desa setempat. Meski demikian, tim reaksi cepat tetap disiagakan untuk memantau potensi bencana susulan.
“Beberapa titik longsor dan luapan air sudah ditangani masyarakat setempat. Tim BPBD tetap melakukan pemantauan dan asesmen untuk memastikan kondisi aman dan tidak ada potensi susulan,” ujar Kristianto pada Senin (23/2/2026).
BPBD telah membagi personel ke dalam beberapa regu untuk mempercepat penanganan di lapangan. Regu 1 difokuskan pada penanganan luapan air di Dam Selolembu, sementara Regu 2 melakukan asesmen kerusakan rumah di Desa Taman, Desa Pancoran, hingga ke lokasi longsor di Desa Sumber Tengah.
Pihak otoritas mengimbau masyarakat, terutama yang bermukim di lereng perbukitan dan bantaran sungai, untuk tetap waspada terhadap tanda-tanda alam yang mencurigakan. Deteksi dini terhadap pergerakan tanah atau peningkatan debit air secara mendadak sangat diperlukan guna menghindari dampak yang lebih fatal.
“Cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi. Kami minta masyarakat tidak lengah dan segera berkoordinasi dengan perangkat desa atau BPBD jika ada kondisi darurat,” tegas Kristianto.
Hingga saat ini, BPBD Bondowoso memastikan seluruh personel dan peralatan pendukung tetap dalam posisi siaga penuh guna merespons laporan masyarakat secara cepat selama status waspada cuaca ekstrem berlangsung. [awi/ian]






