Madiun (beritajatim.com) – Curah hujan tinggi yang mengguyur Kabupaten Madiun menyebabkan banjir luapan di empat desa wilayah Kecamatan Balerejo pada Minggu (22/2/2026) hingga Senin (23/2/2026). Sedikitnya empat desa dilaporkan terdampak serius dengan ketinggian air di area persawahan mencapai 1,5 meter akibat luapan sungai setelah diguyur hujan sejak sore hingga malam hari.
Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Madiun, Fajar Lumaksono, merinci wilayah terdampak meliputi Desa Warurejo, Desa Babadan, Dusun Kasreman (Desa Balerejo), dan Dusun Blawong (Desa Gading). Debit air sungai yang meningkat drastis membuat air meluap hingga merendam akses jalan desa dan lahan pertanian warga secara merata.
Berdasarkan data BPBD, genangan air di jalan desa berkisar antara 20 hingga 50 sentimeter yang mengakibatkan mobilitas warga sempat terganggu. Sementara itu, aktivitas petani terhenti total karena sebagian besar lahan produktif mereka terendam air dengan kedalaman yang cukup signifikan.
Fajar Lumaksono mengonfirmasi bahwa hingga Senin siang pukul 10.00 WIB, petugas masih terus melakukan asesmen lapangan di sejumlah titik banjir tersebut. “Curah hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung cukup lama membuat debit sungai meningkat dan meluap ke area persawahan serta jalan desa,” ujarnya saat dikonfirmasi media pada Senin (23/2/2026).
Meski genangan di persawahan cukup tinggi, BPBD memastikan bahwa sejauh ini air belum merembet masuk ke dalam area permukiman atau rumah warga. Kerugian terbesar saat ini dirasakan oleh sektor pertanian karena tanaman yang baru ditanam harus terendam luapan air sungai yang mencapai satu setengah meter.
“Belum ada laporan air masuk rumah warga. Tetapi sawah terendam dengan ketinggian mencapai satu setengah meter,” jelas Fajar mengenai kondisi terkini di lapangan.
Petugas di lapangan masih fokus melakukan pendataan untuk menghitung potensi kerugian materiil yang dialami oleh para petani di wilayah Balerejo. Selain itu, pemantauan terhadap debit air di titik-titik rawan banjir terus dilakukan guna mengantisipasi kemungkinan kenaikan air susulan jika hujan kembali turun.
Fajar juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra mengingat potensi hujan lebat masih sangat tinggi di wilayah Madiun dan sekitarnya. Ia meminta warga menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke sungai agar saluran air tidak tersumbat saat debit meningkat drastis.
“Di musim penghujan seperti sekarang, debit air bisa cepat naik. Kami minta masyarakat tetap waspada dan menjaga kebersihan lingkungan agar tidak memperparah kondisi,” pungkasnya.
Laporan terkini menyebutkan bahwa genangan air di sejumlah lokasi mulai menunjukkan tren surut secara bertahap seiring berhentinya hujan lebat. Namun, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama bagi petugas BPBD dan warga setempat untuk menghindari dampak bencana yang lebih luas. [rbr/beq]






