Surabaya (beritajatim.com) – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan posisi Indonesia sebagai pusat kebudayaan dunia. Pernyataan itu disampaikan saat mengisi Baitul Arqom Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Sabtu (21/2/2026).
Indonesia dinilai memiliki kekuatan besar melalui megadiversity budaya yang tersebar di 17.000 pulau. Kekayaan ini meliputi 1.340 suku bangsa serta ratusan bahasa daerah yang menjadi aset strategis peradaban.
Fadli memaparkan gagasan “Out of Nusantara” untuk meninjau ulang sejarah migrasi manusia. Ia menyebut jejak kehidupan purba di Nusantara telah ada sejak 60.000 hingga 70.000 tahun lalu.
“Bukan tidak mungkin nenek moyang Nusantara bermigrasi ke Pasifik, Australia, bahkan sampai ke Afrika,” ujar Fadli dikutip Minggu (22/2/2026).
Temuan ini membuka ruang kajian baru tentang peta persebaran manusia purba dunia.
Selain prasejarah, penguatan museum menjadi sorotan utama sebagai etalase peradaban bangsa. Fadli mendorong museum di Indonesia berfungsi maksimal sebagai pusat edukasi publik, merujuk kesuksesan Museum Louvre di Paris.
Sektor industri kreatif turut menunjukkan tren positif melalui dominasi film nasional. Saat ini, film karya anak bangsa menguasai sekitar 67 persen pangsa pasar domestik di tengah persaingan global.
Prestasi ini diperkuat capaian film animasi Jumbo dan partisipasi sineas di berbagai festival internasional. Penetrasi tersebut dianggap memperluas ruang apresiasi sekaligus memperkenalkan perspektif Indonesia ke dunia.
Rektor Umsura, Mundakir, merespons visi tersebut melalui penguatan karakter mahasiswa. Seluruh mahasiswa kini diwajibkan mengikuti Baitul Arqom untuk membentuk intelektual muda yang tangguh dan berkemajuan.
Kampus menyatakan kesiapan bersinergi dengan Kementerian Kebudayaan dalam membangun karakter bangsa. “Pintar itu kalau tidak berbasis pada nilai moralitas, karakter, dan akhlakul karimah, maka akan kosong,” tegas Mundakir.
Kepala LPAIK Umsura, Mukayyat Al-Amin, melaporkan kegiatan ini diikuti lebih dari 1.000 mahasiswa. Program intensif 24 jam ini berfokus pada penanaman ideologi dan nilai dasar organisasi.
“Untuk memastikan pembinaan berjalan maksimal selama 24 jam penuh, panitia menerjunkan 20 instruktur pendamping,” tandasnya. [ipl/suf]






