Ponorogo (betitajatim.com) – Jeruji besi yang selama bertahun-tahun mengurung 2 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Desa Sendang, Kecamatan Jambon, Ponorogo, menyimpan kisah getir dari keluarga yang terhimpit ketakutan dan keterbatasan. Bagi keluarga, pengurungan bukanlah pilihan pertama, melainkan jalan terakhir. Tujuannya demi melindungi orang-orang terdekat dari ancaman kekerasan yang berulang.
Suhananto dan Majid, dua ODGJ yang belakangan dievakuasi dan dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya. Keduanya masing-masing memiliki latar belakang panjang sebelum akhirnya dipasung.
Cerita keluarga membuka mata bahwa jeruji besi dipasang bukan karena keinginan mengucilkan. Melainkan karena tak ada lagi ruang aman di rumah.
Diana Puspita Sari, adik kandung Suhananto, menuturkan bahwa gangguan kejiwaan sang kakak telah berlangsung lebih dari dua dekade. Awalnya, Suhananto merantau ke Malaysia usai lulus SMP dan bekerja melalui agen. Namun, dalam waktu sekitar enam bulan, pihak agen mengabarkan bahwa Suhananto mengalami gangguan jiwa dan tidak lagi mampu bekerja.
“Sekitar 6 bulanan kerja di Malaysia itu dari agen Malaysia mengkonfirmasi mas Hananto ini mengalami gangguan jiwa,” ungkap Diana, Selasa (3/2/2026).
Setelah dipulangkan ke Indonesia, kondisi Suhananto kian memburuk. Dia menolak bekerja, enggan mengurus diri. Lebih banyak menghabiskan hari hanya untuk tidur, merokok, serta mengonsumsi minuman ringan dalam jumlah berlebihan. Perlahan, kondisi itu menggerus ekonomi keluarga hingga barang-barang di rumah satu per satu habis dijual.
“Ibunya punya beras dijual, punya tabung gas dijual, punya motor dijual, akhirnya semua dijual,” katanya.
Diana mengungkapkan, ketika kebutuhan tidak lagi terpenuhi, Suhananto sering mengamuk dan semakin sulit dikendalikan. Berbagai upaya pengobatan telah dilakukan, mulai dari pengobatan alternatif hingga perawatan medis. Semuanya tidak ada hasil sesuai harapan.
“Katanya disuruh ke orang pintar, disana hanya beberapa bulan itu, sampai rumah kumat lagi, stress lagi,” ungkap Diana.
Situasi semakin berbahaya ketika Suhananto mulai membawa senjata tajam dan benda keras saat kambuh. Dia kerap berkeliling kampung sambil menggenggam kayu, besi, hingga parang. Hal itu membuat warga dan keluarga dibayangi ketakutan.
“Kalau stress ambil apa aja, ambil senjata tajam, kayu, balok, besi,” tuturnya.
Keluarga sempat merujuk Suhananto ke RSJ Solo dan menjalani perawatan hampir dua tahun. Saat itu kondisinya sempat terlihat membaik dan dinilai normal. Namun, setelah kembali ke rumah, gangguan kembali kambuh dengan intensitas lebih parah.
“Sampai sama kelihatan normal, sembuh. Ketika kembali ke rumah, itu kumat lagi tambah parah lagi,” kata Diana.
Pengobatan rutin pun kembali dilakukan, namun efek samping obat membuat Suhananto menolak untuk minum obat. Kondisinya kembali tak terkendali hingga sempat melukai anggota keluarga.
“Tambah parah, tiba-tiba bawa parang, saya saja di sekolah ditonjok,” ujarnya.
Puncaknya terjadi ketika ancaman kekerasan terhadap keluarga semakin nyata. Diana menyebut, tidak ada lagi pilihan selain mengurung Suhananto demi mencegah korban jiwa.
“Setelah anggota keluarga mau dibacok itu akhirnya tidak ada pilihan lain. Masuk penjara (kerangkeng besi-red) tahun 2014-an biar tidak ngamuk, dan tidak membahayakan,” pungkasnya.
Kisah serupa juga datang dari keluarga Majid, ODGJ lain asal Desa Sendang yang dipasung sejak 2013. Sang ibu, Katemi, mengaku keputusan mengurung anaknya dilandasi ketakutan. Ketakutan terjadi setelah Majid kerap mengamuk dan melakukan kekerasan fisik.
Katemi mengenang sejumlah peristiwa kekerasan yang membuat keluarga tidak lagi merasa aman di rumah sendiri. Dia menyebut, suaminya pernah diinjak, menantunya dijambak, dan dirinya sendiri mengalami pemukulan.
“Bapaknya diinjek, anak menantuku dijambak, terus aku dipukul kepalaku,” ungkapnya lirih.
Upaya pengobatan juga telah dilakukan dengan membawa Majid ke RSJ Solo sebanyak dua kali. Namun, kondisi Majid kembali kambuh setelah pulang ke rumah.
“Sebelumnya dibawa ke RSJ Solo dua kali,” katanya.
Dengan nada pasrah, Katemi menyerahkan sepenuhnya proses penyembuhan anaknya kepada Tuhan. Dia ikhlas ketika Majid dibawa untuk perawatan lanjutan, dengan satu harapan sederhana. Yakni sembuh dan tidak lagi menyakiti siapa pun.
“Ikhlas aku. Majid dibawa semoga lekas sembuh. Serahkan pada Allah,” pungkas Katemi. (end/but)






