Surabaya (beritajatim.com) – Tim Antasena Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sukses mengharumkan nama Indonesia dengan menyabet dua penghargaan sekaligus dalam ajang bergengsi Shell Eco-marathon Qatar 2026. Kompetisi inovasi kendaraan hemat energi tingkat dunia tersebut berlangsung di Sirkuit Internasional Lusail, Doha, pada akhir Januari 2026.
Tim mahasiswa kebanggaan Jawa Timur ini berhasil meraih Juara 2 kategori Prototype Hydrogen Fuel Cell melalui mobil andalan mereka, Falcon 3.0. Selain itu, mereka juga dinobatkan sebagai pemenang Juara 1 Technical Innovation Award berkat kecanggihan sistem pendukung mesin yang mereka kembangkan secara mandiri.
Capaian gemilang ini diraih setelah Falcon 3.0 menunjukkan performa luar biasa di tengah tantangan cuaca ekstrem gurun pasir Qatar yang sangat menantang. Angin kencang dengan kecepatan mencapai 40 kilometer per jam menjadi hambatan utama yang harus ditaklukkan oleh seluruh peserta di lintasan balap.
General Manager sekaligus pengemudi Tim Antasena ITS, Fauzil Adhim, menjelaskan bahwa kondisi alam di lokasi perlombaan sempat menyulitkan kendali kendaraan. Arah angin yang tidak menentu mengharuskan tim melakukan penyesuaian strategi balap secara cepat dan presisi.
“Angin di sirkuit Lusail cukup kencang dan berlawanan dengan laju mobil. Ini menjadi tantangan utama saat balapan berlangsung,” ujar Fauzil, Rabu (28/01/2026).
Meski dihantam angin kencang, Falcon 3.0 tetap membuktikan keunggulannya dalam aspek efisiensi penggunaan energi yang sangat kompetitif. Mobil berbasis hidrogen fuel cell ini tercatat mampu menempuh jarak sejauh 498 kilometer hanya dengan menghabiskan 1 meter kubik gas hidrogen.
Tingginya tingkat efisiensi tersebut dipicu oleh inovasi sistem humidifier yang dirancang khusus oleh para mahasiswa teknik ITS Surabaya. Teknologi ini berfungsi krusial dalam menjaga tingkat kelembapan pada mesin fuel cell agar perpindahan proton tetap berjalan optimal.
Inovasi humidifier buatan lokal ini menjadi daya tarik utama bagi dewan juri internasional dalam menilai keunggulan teknis tim Antasena. Dengan kelembapan yang terkendali, mesin mampu menghasilkan daya listrik yang jauh lebih stabil dibandingkan sistem standar lainnya.
“Dengan kelembapan yang terjaga, aliran listrik di dalam mesin menjadi lebih stabil dan efisien, sehingga energi yang dihasilkan lebih maksimal,” jelas Fauzil.
Keberhasilan meraih Technical Innovation Award membuktikan bahwa riset mahasiswa Surabaya mampu mengungguli inovasi dari tim-tim kampus ternama di berbagai negara. Juri memberikan apresiasi tinggi pada orisinalitas ide dan efektivitas sistem yang diterapkan pada prototipe kendaraan masa depan tersebut.
Perjalanan menuju podium juara tidaklah mudah karena tim juga harus bergelut dengan tantangan logistik pengiriman unit mobil melalui jalur laut. Ketatnya aturan kepabeanan dan periode padat pengiriman internasional menuntut ketelitian administrasi yang sangat tinggi dari manajer tim.
“Kami harus sangat teliti dalam pengurusan dokumen karena statusnya impor sementara untuk lomba. Kesalahan kecil bisa berdampak panjang pada proses kepabeanan,” ungkap Fauzil mengenai kendala non-teknis tersebut.
Berkat kedisiplinan dan persiapan matang selama berbulan-bulan, mobil Falcon 3.0 berhasil tiba di Doha tepat waktu dan lolos verifikasi teknis tanpa kendala berarti. Soliditas tim menjadi kunci utama bagi Antasena ITS dalam mempertahankan reputasi sebagai salah satu tim mobil hidrogen terbaik di Asia.
Hasil manis di Qatar ini membawa tiket bagi Antasena ITS untuk melaju ke ajang Shell Eco-marathon Global Championship 2027 mendatang. Tim kini mulai fokus melakukan riset lanjutan guna meningkatkan performa mesin dan aerodinamika badan mobil untuk persaingan di level dunia. [ris/beq]






