Pacitan (beritajatim.com) – Tri Wahyuni (43), seorang ibu rumah tangga di Perumnas Bangunsari, Kecamatan Pacitan, berhasil mengubah melimpahnya stok buah durian menjadi bisnis kuliner yang sangat menjanjikan. Inovasi olahan cake, brownies, hingga es krim durian miliknya kini sukses menembus omzet hingga Rp17 juta per bulan.
Bisnis rumahan yang dirintis sejak masa pandemi tahun 2020 ini memanfaatkan daging durian asli sebagai bahan utama adonan kue. Tri mencampurkan buah tersebut ke dalam komposisi telur, tepung terigu, serta margarin untuk menciptakan rasa yang autentik.
“Awalnya saya buat kue biasa sejak pandemi 2020. Tapi saat musim durian datang dan buahnya melimpah, saya coba inovasi mencampurkan daging durian asli ke adonan kue,” ujarnya, Senin (26/1/2026).
Setiap hari, ibu dua anak ini disibukkan dengan banjir pesanan pelanggan untuk berbagai kebutuhan acara, mulai dari hajatan pernikahan hingga konsumsi kantor. Proses pembuatannya menuntut ketelitian, terutama saat menghaluskan daging buah sebelum dicampur ke dalam adonan dasar.
“Durian saya haluskan dulu, lalu dicampur ke adonan. Setelah matang, saya tambahkan topping fla durian dan parutan keju supaya rasanya lebih kuat,” jelasnya mengenai teknik produksi.
Adonan yang telah siap kemudian dipanggang selama kurang lebih 30 menit hingga matang sempurna di dalam oven. Aroma khas durian yang menggugah selera langsung tercium kuat saat loyang diangkat, menjadi daya tarik bagi siapa pun yang berkunjung ke dapurnya.
Guna menjaga stabilitas produksi, Tri mendatangkan bahan baku durian dari Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo, serta mengandalkan durian lokal Pacitan. Ia juga menerapkan sistem penyimpanan khusus di lemari pendingin agar kualitas daging buah tetap terjaga sepanjang tahun.
“Saya simpan di freezer supaya bisa produksi terus meski musim durian sudah lewat. Jadi pelanggan tetap bisa pesan kapan saja,” tambahnya dengan penuh optimisme.
Keaslian rasa produk Tri diakui oleh para pelanggan setia, salah satunya Lilis Agustina yang rutin memesan untuk konsumsi keluarga. Lilis menyatakan bahwa produk olahan ini memiliki keunggulan pada tekstur dan aroma buah asli yang tidak ditemukan pada produk pabrikan.
“Anak saya hampir tiap hari beli es krim durian di sini. Rasanya beda karena pakai durian asli, bukan perisa seperti yang dijual di toko-toko,” kata Lilis memberikan testimoni.
Harga yang dibanderol pun cukup terjangkau, yakni Rp35 ribu untuk cake durian, Rp40 ribu untuk brownies, dan hanya Rp6 ribu untuk satu cup es krim. Berkat konsistensi menjaga kualitas, Tri Wahyuni kini mampu memperkuat ekonomi keluarga melalui kreativitas pemanfaatan potensi lokal.
“Alhamdulillah pesanan terus ada. Saya tidak menyangka durian bisa jadi peluang usaha seperti ini,” pungkasnya. [tri/beq]






