Jombang (beritajatim.com) – Di kaki Pegunungan Anjasmoro, Wonosalam, Kabupaten Jombang, durian—buah berduri yang terkenal manis, pahit dan gurih—seharusnya menjadi primadona di awal tahun. Namun, pada Januari 2026, petani di sana justru menghadapi kenyataan pahit.
Cuaca ekstrem yang datang tanpa henti telah mengganggu panen durian, menyebabkan hasilnya jauh di bawah harapan. Bukan hanya jumlah yang menurun, tetapi juga rasa durian yang seharusnya memanjakan lidah kini terasa hambar, jauh dari ekspektasi.
Imam Chairil (35), Kepala Dusun (Kasun) Mendiro Desa Panglungan Kecamatan Wonosalam berdiri mematung di teras rumahnya saat awan hitam menggantung di langit. Sejurus kemudian, hujan turun sangat deras.
Di sela itu, angin juga bertiup kencang. Suaranya bergemuruh. Pepohonan yang ada di kawasan lereng Pegunungan Anjasmoro itu meliuk-liuk. Angin kencang yang bercampur air hujan tersebut membentuk warna putih dan bergulung-gulung.
“Jalanan sampai tak terlihat karena hujannya sangat deras. Hampir setiap hari hujan deras disertai angin kencang. Ini baru saja reda setelah hujan sekitar dua jam,” kata Iril, panggilan akrab Imam Chairil, ketika dihubungi beritajatim.com, Selasa (13/1/2026).
Bagi warga Wonosalam, hujan bukan hanya menjadi berkah. Namun juga bisa mengakibatkan musibah. Longsor dan angin puting beliung mengintai setiap waktu. Bahkan, akibat cuaca ekstrem tersebut produksi durian Wonosalam merosot tajam.
Iril mencontohkan, di Dusun Mendiro terdakat sekitar 500 pohon durian. Namun saat memasuki panen kali ini, hasilnya merosot tajam. Penuruannya hingga 70 persen. “Semisal, dalam kondisi normal, satu pohon menghasilkan 100 butir durian, sekarang ini hanya 30 butir. Banyak yang rontok,” jelasnya.
Durian Rasanya Hambar

Suyitno (45) berada di kebun durian miliknya siang itu. Dia melakukan perawatan deretan bibit durian yang sudah siap jual. Selama ini Suyitno melakukan pembibitan durian berbagai jenis. Untuk lokal, jenis durian bido dan merica.
Sedangkan jenis durian lainnya adalah musangking, durian hitam, bawor, montong, serta durian super tembaga. Walhasil, bibit-bibit tersebut laris manis. Bukan hanya untuk Jombang, tapi juga melakukan pengiriman hingga luar Jawa.
Dari kebun milik Suyitno mengalir buah durian ke lapak-lapak pedagang yang ada di Wonosalam. Para pengunjung tergila-gila dengan rasa manis pahit dan gurih durian khas Wonosalam ini. Tentu saja, saat akhir pekan jalanan menuju Wonosalam padat.
Kendaraan dengan pelat nomor luar kota hilir mudik. Selain pelat S, ada pelat L, AG, serta W. Mereka datang dari luar kota untuk berburu legitnya durian di kaki pegunungan Anjasmoro tersebut.
Memang, mulai Januari ini, begitu memasuki kawasan Wonosalam pengunjung disuguhi pemandangan berbeda. Betapa tidak, di sisi kanan dan kiri jalan nampak lapak pedagang buah. Isinya, durian yang ditata menggantung dan dijajar di atas meja. Kemudian ada petai, serta alpukat.
Begitu juga di pasar buah Kecamatan Wonosalam. Hasil pertanian asli Wonosalam dijual dengan harga miring. Untuk durian lokal, dipatok harga antara Rp40 hingga Rp100 ribu. Tergantung ukuran dan kualitas.
Jika Sabtu atau Minggu, lalu lintas di sepanjang Wonosalam terkadang melambat, bahkan macet. Karena banyak kendaraan (roda dua dan roda empat) yang parkir di badan jalan. Para penumpang turun. Lalu menyantap durian di pinggir jalan itu. Ada juga yang membeli buah berduri tersebut untuk dibawa pulang sebagai buah tangan untuk keluarga.
Terkadang ramainya pengunjung tersebut juga berbuah petaka. Seperti yang terjadi pada Kamis (15/1/2026). Rombongan Satpam asal Surabaya mengalami kecelakaan usai memborong durian dari Wonosalam.
Rombongan bermotor ini kecelakaan saat pulang, yakni di Jl Raya Japanan Kecamatan Mojowarno. Di kendaraan tersebut terdapat satu karung durian Wonosalam. Satu orang Satpam meninggal dalam kecelakaan melawan truk tersebut.
Suyitno menjelaskan bahwa cuaca ekstrem bukan hanya menurunkan produktivitas durian Wonosalam, tapi juga soal kualitas. Angin kencang yang sering terjadi merontokkan bakal buah. Sedangkan hujan yang terjadi terus menerus membuat buah durian yang tidak rontok rasanya hambar.
“Karena terkena hujan dan angin setiap hari, buah durian rasanya menjadi hambar. Padahal durian Wonosalam itu terkenal dengan rasa manis pahit dan gurih. “Namun untuk sekarang rasanya hambar. Bahkan mogol (cenderung mentah),” ujar Suyitno yang biasa menjadi juri dalam kontes durian, Senin (19/1/2026).

Namun demikian, tingkat penjualan masih stabil. Para pengunjung juga masih datang untuk memborong durian tersebut. Untuk durian lokal dengan kualitas unggul dijual dengan harga Rp70 hingga Rp100 ribu per butir.
Kualitas unggul ini menurut Suyitno, dagingnya tebal, dengan berat kisaran 2 kilogram. Sedangkan durian lokal kualitas biasa dijual dengan harga Rp40 hingga Rp50 ribu per butir. “Tentu sja daging buah lebih tipis dan ukurannya lebih kecil,” urainya.
Dalam melakukan penjualan, petani Wonosalam juga tetap menjaga kualitas. Para pembel diberikan garansi. Artinya, jika durian yang dibeli rasanya anyep atau hambar, maka akan diganti. Durian yang rusak juga tidak dijual.
Oleh sebab itu, meski dihantam cuaca ekstrem, penjualan durian Wonosalam masih stabil. Dalam hitungan kasar, seluruh pedagang mampu menjual kisaran 3000 butir durian. “Itu seluruh desa di Kecamatan Wonosalam. Taruhlah kita rata-rata harganya Rp40 ribu per butir, maka omzet per hari bisa tembus Rp120 juta,” ungkapnya.
Populasi Meningkat, Produksi Menurun

Populasi pohon durian di Wonosalam terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pada 2021 populasi durian di Wonosalam mencapai 192.152 pohon. Hal itu berdasarkan pendataan yang dilakukan lintas sektor: Bappeda, Dinas Pertanian, Asosiasi Komoditi (Askom), serta Poktan (Kelompok Tani) dan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani).
Namun sejak tiga tahun terakhir ini update atau pembaruan data belum dilakukan lagi oleh lintas sektoral tersebut. Saat ini populasi diperkirakan mengalami peningkatan hingga 5000 batang.
“Data pada tahun 2021 populasi durian mencapai 192.152 pohon. Saat ini kami perkirakan meningkat hingga 5000 pohon. Itu data yang ada di kami,” ujar Koordinator Wilayah (Korwil) BPP (Balai Penyuluh Pertanian) Kecamatan Wonosalam Addib Taufani, Senin (19/1/2026).
Addib mengungkapkan, saat pendataan tahun 2021, setiap pohon diberi barcode. Isinya identitas pohon tersebut, mulai lokasi hingga jenis buah durian. Dari hasil pemetaan itu diketahui jumlah tanaman durian di Kecamatan Wonosalam tercaatat 192.152 pohon. Rinciannya, tanaman sudah berbuah atau menghasilkan sebanyak 112.521 pohon, sedangkan yang belum menghasilkan 79.632 pohon.
Sebanyak 192.152 pohon durian tersebut tersebar di sembilan desa di Kecamatan Wonosalam. Paling banyak di Desa/Kecamatan Wonosalam tercatat 62.714 pohon atau 32,64 persen. Paling sedikit di Desa Wonokerto, yakni 2.631 pohon atau 1,37 persen. Populasi tertinggi selanjutnya di Desa Jarak, yakni 35.868 pohon durian atau 18,67 persen.
Lalu, Desa Carangwulung sebanyak 33.767 pohon durian atau 17,57 persen. Disusul kemudian Desa Panglungan tercatat 20.675 pohon durian atau 10,76 persen. Desa-desa lainya jumlah populasinya antara 8 hingga 2 persen. Selain sebarannya, durian tersebut juga dilihat dari kualitasnya.

Yakni meliputi durian grade A, grade B, grade B+, grade C, serta grade D. Setiap grade memiliki ciri fisik dan kualitas berbeda. Semisal durian grade A memiliki daging tebal, warna menarik, pernah menjadi juara kontes, serta bibit berasal dari generatif/vegatatif.
Kemudian durian grade B+ pembibitannya secara generatif, dagingnya tebal dan memiliki warna menarik, bijinya lajur, serta berpotensi menjadi durian grade A. Durian B+ bijinya lajur, sedangkan grade B bijinya tumpuk. Hasil pendataan dikelola dalam aplikasi yang dikelola Askom. Ini digunakan untuk mengetahui standar buah durian Wonosalam.
Agar menghasilkan durian dengan kualitas bagus, Adib tak lelah memberikan penyuluhan kepada petani di masing-masing desa. Di antaranya, menghimbau kepada petani agar senantiasa memberikan dolomit di pohon durian. Tujuannya, untuk menaikkan kandungan Ca (kalsium).
“Pohon diberikan dolomit cenderung berbuah. Ini juga berpengaruh pada kematangan dan rasa. Bahkan, ketika ada kendala angin, pohon yang diberi dolomit cenderung lebih kuat,” ujar Addib.
Addib mengakui bahwa cuaca ekstrem mengakibatkan durian Wonosalam merosot tajam, baik dari kualitas maupun kuantitas. Namun demikian, secara ekonomi penjualan durian masih stabil. Pengunjung masih menyerbu Wonosalam.
Saat ini, petani Wonosalam mampu menghasilkan 2000 hingga 3000 butir durian per satu Minggu. Jumlah itu merosot tajam jika dibanding pada situasi normal. Pada tahun lalu, panen durian di angka 5000 hingga 10.000 butir. “Penurunan produksi durian terjun bebas antara 60 hingga 70 persen, akibat cuaca ekstrem,” ujar Addib.
Akibatnya, Kenduri Durian (Kenduren) di Wonosalam terancam tidak digelar untuk tahun ini. Kepada Adib, banyak petani yang meminta agar festival tahunan yang diselenggarakan di Kecamatan Wonosalam ditunda sementara waktu.
Para petani takut mengecewakan pengunjung. Rasa durian tak lagi creamy, jumlahnya juga merosot tajam. “Kalau rasanya hambar dan mogol, maka akan merusak citra durian Wonosalam. Oleh sebab itu, petani meminta agar kenduri durian ditunda,” pungkasnya.
Meski cuaca ekstrem merusak kualitas dan kuantitas durian Wonosalam, semangat para petani tidak padam. Mereka tetap berusaha menjaga kualitas meski tantangan terus menghampiri. Namun, dengan penurunan hasil panen yang signifikan, gelaran Kenduren (Kenduri Durian) yang selalu dinanti setiap tahun kini terancam batal.
Harapan petani kini terarah pada perubahan cuaca yang dapat menyelamatkan panen berikutnya, agar durian Wonosalam kembali mencuri perhatian dengan rasa dan kualitas terbaiknya. [suf]






