Lamongan (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Lamongan terus mengintensifkan upaya penanganan banjir luapan Bengawan Jero dengan memperkuat infrastruktur pengendalian air sekaligus memberikan perhatian pada aspek kemanusiaan bagi warga terdampak. Langkah tersebut dilakukan menyusul masih adanya genangan di sejumlah wilayah.
Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Kabupaten Lamongan menyiagakan tambahan dua unit mobil pompa untuk mempercepat proses pembuangan air dari kawasan Bengawan Jero. Penambahan armada ini diharapkan mampu memperluas jangkauan penanganan genangan agar lebih optimal.
“Mobil pompa nambah dua unit. Ini bagian dari upaya kita menanggulangi banjir luapan Bengawan Jero,” kata Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas SDABK Lamongan, Saikhu, Kamis (15/1/2026).
Saikhu menjelaskan, pengendalian debit air saat ini bertumpu pada dua stasiun utama, yakni Stasiun Pompa Kuro dan Stasiun Pompa Melik. Di Stasiun Pompa Kuro terdapat 14 unit pompa dengan total kapasitas mencapai 10.900 liter per detik. Dari jumlah tersebut, 8.150 liter per detik beroperasi aktif, sementara 2.750 liter per detik disiagakan sebagai cadangan.
“Pompa di Stasiun Kuro terdiri dari tiga unit pompa milik Pemerintah Provinsi berkapasitas masing-masing 2.000 liter per detik, dengan satu unit dalam kondisi siaga. Selain itu, dua unit pompa dari BBWS Bengawan Solo berkapasitas 1.000 liter per detik, beroperasi penuh,” ujarnya.
Selain itu, Pemkab Lamongan juga mengoperasikan dua unit pompa berkapasitas 500 liter per detik serta satu unit pompa berkapasitas 400 liter per detik. Operasional pompa tersebut diperkuat enam unit pompa tambahan dengan kapasitas masing-masing 250 liter per detik, di mana tiga unit di antaranya berupa mobil pompa yang aktif di lapangan.
“Operasional ini diperkuat enam unit pompa berkapasitas 250 liter per detik, tiga di antaranya merupakan mobil pompa yang aktif di lapangan,” tuturnya.
Untuk menjaga performa dan keamanan peralatan, seluruh pompa dioperasikan dengan sistem rotasi. Di Stasiun Pompa Melik, misalnya, dari tiga unit pompa berkapasitas 500 liter per detik, hanya dua unit yang dijalankan secara bersamaan, sementara satu unit lainnya diistirahatkan.
“Pompa yang off itu untuk gantian pendinginan. Kadang panas, jadi perlu perawatan. Pengoperasiannya bisa berubah sesuai kondisi keamanan pompa di lapangan,” kata Saikhu.
Selain fokus pada pengendalian air, bantuan kemanusiaan juga disalurkan kepada warga terdampak banjir. Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Lamongan menyalurkan bantuan sosial berupa paket sembako kepada masyarakat terdampak banjir di Kecamatan Glagah dan Kecamatan Deket.
“Kami hadir untuk sedikit meringankan beban saudara-saudara kita yang aktivitasnya terhambat akibat banjir. Semoga bantuan ini bisa membantu memenuhi kebutuhan pokok harian warga,” kata Ketua DWP Lamongan, Puji Dariani Nalikan.
Puji menambahkan, DWP Lamongan akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam memantau kondisi sosial masyarakat, khususnya saat terjadi bencana alam.
“Kami berharap banjir segera surut, agar aktivitas warga kembali normal,” ujarnya. [fak/beq]






