Persebaya membuktikan bahwa Jose Mourinho benar. “They can take the ball home with them. I took 3 points,” katanya usai pertandingan Tottenham Hotspur melawan Manchester City, 22 November 2020.
Dominasi penguasaan bola di lapangan tidak menggaransi kemenangan. Kemenangan dikunci dengan kemampuan memanfaatkan detail dan kelengahan lawan.
Dalam sejarah keikutsertaan Persebaya dalam level teratas Liga Indonesia sejak 2018, pertandingan melawan Malut United, di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu (10/1/2026), adalah pertandingan terberat jika dilihat dari aspek statistik.
Mengutip dari situs resmi Persebaya, Green Force hanya menguasai 19 persen permainan. Sementara Malut menguasai bola hingga 91 persen. Kenyamanan status Persebaya sebagai tuan rumah sama sekali tidak tercermin di angka tersebut.
Dan Malut bukan sekadar menguasai bola. Akurasi operan mereka mencapai 88 persen, yang artinya jalinan antarlini mereka sangat rapi. Bandingkan dengan akurasi operan Persebaya yang hanya 64 persen.
Tembakan ke gawang Malut juga jauh di atas Persebaya: 25 berbanding 9. Namun papan skor saat wasit Naufal Adya Fairuski meniup peluit akhir menunjukkan kemenangan 2-1 bagi Persebaya.
Bermain defensif bukanlah hal baru bagi Persebaya. Sejak dilatih Paul Munster, Bruno Moreira dan kawan-kawan cenderung tampil bertahan dan mengandalkan serangan balik.
Ini berbeda 180 derajat dengan saat ditangani Aji Santoso, Djajang Nurdjaman, atau Alfredo Vera. Komentator sepak bola Binder Singh bahkan memuji tinggi Persebaya di era Aji sebagai tim yang paling menghibur dan juara tanpa mahkota.
Namun di tangan Munster, Persebaya bermain lebih pragmatis. Hasilnya adalah pemuncak klasemen pada putaran pertama Liga 1 musim 2024-25.
Seharusnya Bonek berbahagia dengan hasil ini. Alih-alih demikian, saat itu banyak yang menggerutu bahwa Persebaya kehilangan jati dirinya. Mereka menyebut hasil itu sebagai keberuntungan belaka dan tinggal menunggu waktu untuk ambruk.
Klasemen akhir musim menunjukkan Persebaya berada di peringkat keempat, terpaut 13 angka dengan Persib yang berada di pucuk. Hasil yang sebenarnya tidak buruk. Namun Munster terdepak juga akhirnya.
Kali ini Bernardo Tavares, pelatih senegara dengan Mourinho, datang di pertengahan musim. Dia datang dengan predikat sebagai pelatih yang pernah merasakan gelar juara Liga 1 bersama PSM Makassar. Sebagaimana Munster, Tavares juga cukup pragmatis, dan itu ditunjukkannya saat pertandingan melawan Malut United.
Namun ada yang berbeda kali ini di tubuh Persebaya. Kedatangan Tavares mengembalikan kepercayaan Bonek terhadap klub mereka. Tavares juga mendongkrak kepercayaan diri pemain. Dikepung selama 90 menit lebih, pemain-pemain Persebaya terlihat tak gentar. Bahkan mereka berhasil menjaga pertahanan dengan cukup rapi.
Lihatlah bagaimana hanya 24 persen tembakan pemain Malut ke gawang Ernando Ari yang tepat sasaran (6 datri 25 tembakan). Ini bukan sesuatu yang kebetulan. Pertahanan Persebaya tidak saja rapat, namun juga berhasil melakukan pressing terhadap David da Silva dan kawan-kawan sehingga tidak menemukan posisi yang nyaman untuk menciptakan peluang.
Sementara itu 44,44 persen tembakan Persebaya tepat sasaran ke gawang Angga Saputro (4 dari 9 tenbakan). Serangan Persebaya cukup efektif jika melihat dua gol yang dicetak pemain asal Timor Leste, Gali Freitas, pada menit 14 dan 37. Bahkan seharusnya dua gol tercipta di babak kedua melalui skema serangan balik, jika Koko Ari lebih tenang dan Francisco Rivera menembak dengan kaki terkuatnya.
Baiklah, ini baru satu pertandingan. Hasil menggembirakan. Optimisme tumbuh.
Namun musim kompetisi masih panjang. Kita tidak tahu apakah ini bakal menjadi musim semi atau musim gugur bagi Persebaya. Kuncinya adalah dukungan penuh bagi Tavares. Manajemen harus menyediakan peman-pemain yang tepat pada paruh kedua. Tidak boleh lagi ada pemain yang salah posisi seperti Dejan Tumbas (walau kemudian kita akhirnya tahu jika dia serba bisa), atau bermain di bawah ekspektasi.
Sekali lagi, tidak ada yang bisa memastikan bagaimana cara manajemen Persebaya memilih dan membeli pemain, terutama impor, selama ini. Namun kesalahan demi kesalahan tak boleh terulang. Ibarat chef, Tavares hanya bisa memasak makanan enak jika bumbu-bumbu dapur yang tersedia berkualitas.
Sementara Bonek sebaiknya bersabar dan tidak buru-buru memasang target tinggi. Seperti kata Mourinho: “You win by effort, by commitment, by ambition, by quality, by expressing yourself individually but in the team context.” [wir]






