Lamongan (beritajatim.com) – Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Lamongan melakukan beberapa uoaya untuk menangani banjir di kawasan Bengawan Jero.
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, mengatakan salah satu uoaya yang dilakukan adalah dengan mengoptimalkan pompa air, untuk membuang air ke Bengawan Solo.
“Kita menambah durasi pompa, karena yang bisa kita lakukan sekarang adalah memaksimalkan pembuangan air melalui Pintu Kuro maupun dam-dam lainnya. Untuk hujan tentu tidak bisa kita kendalikan, tapi penanganannya kita optimalkan,” ujarnya, saat meninjau langsung wilayah terdampak banjir di Desa Sukorejo, Kecamatan Karangbinangun, Senin (12/1/2026).
Bupati yang akrab disapa Pak Yes itu menambahkan, pompa bantuan dari BBWS serta pompa milik Pemkab Lamongan telah dioperasikan secara maksimal.
“Pompa dari pemerintah kabupaten dinyalakan dari pukul 20.00 WIB, sementara bantuan pompa dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur beroperasi mulai pukul 07.00 hingga 20.00 WIB,” tuturnya.
Selain upaya teknis, Pemkab Lamongan juga menyalurkan berbagai bantuan kepada masyarakat terdampak banjir. Mulai dari sembako, alat sandang, serta layanan cek kesehatan gratis yang dilakukan secara berkala bagi warga.
“Kami sudah menyiapkan bantuan bahan makanan dan bantuan lainnya. Termasuk layanan kesehatan gratis agar kondisi warga tetap terpantau,” katanya.
Lebih lanjut Pak Yes menyampaikan, pihaknya juga telah mencapai kesepakatan lintas sektor, terkait penambahan jadwal dan target penyelesaian penanganan banjir, agar dampaknya tidak semakin meluas.
“Pemerintah Kabupaten Lamongan berkomitmen terus melakukan koordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk memastikan penanganan banjir berjalan efektif,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sukorejo, Heri Susanto, mengungkapkan terdapat sedikitnya 135 hingga 150 rumah warganya tergenang air, dengan ketinggian genangan air rata-rata 20 hingga 40 sentimeter.
“Untuk jalan desa, total yang tergenang sekitar tiga kilometer, dan hampir dua kilometer di antaranya masih terendam hingga sekarang,” tuturnya.
Selain itu, masyarakat setempat yang mayoritas petambak, juga terancam mengalami kerugian besar, akibat banjir yang melanda. Total luas lahan tambak di Desa Sukorejo seluas sekitar 290 hektare.
Heri menjelaskan, Rata-rata modal benih ikan mencapai Rp5 juta per hektare, mencakup berbagai jenis ikan seperti bandeng, nila, bader, hingga tombro.
“Untuk penanganan sementara untuk mencegah kerugian yang kebih besar, rata-rata warga memasang jaring agar ikan tidak lepas. Mudah-mudahan tidak sampai tenggelam total, karena kalau tenggelam kerugiannya jauh lebih parah,” kata Heri. [fak/suf]






