Surabaya (beritajatim.com) — Influencer internasional Dasha Gartman, yang dikenal luas dengan julukan Bule Barbie, membagikan panduan praktis sekaligus realistis bagi kreator konten pemula agar mampu bertumbuh secara organik dan berkelanjutan di tengah persaingan digital yang semakin ketat. Tips tersebut ia sampaikan dalam sebuah Program Open Mind for Student di Hotel Santika Premiere Gubeng, Surabaya, Sabtu (10/1/2026).
Menurut Dasha, kesalahan paling umum kreator pemula adalah terlalu cepat menentukan niche tanpa memberi ruang pada data. Ia menekankan pentingnya membiarkan performa konten berbicara.
Kreator disarankan mencoba beberapa jenis konten yang benar-benar disukai, idealnya antara satu hingga lima format berbeda. Dari sana, kreator dapat mengamati respons audiens melalui metrik sederhana seperti jumlah tayangan, komentar, dan tingkat share.
Konten yang paling banyak diminati itulah yang sebaiknya dikembangkan lebih lanjut.
Tidak kalah penting, Dasha menyoroti cara “berkomunikasi” dengan algoritma platform digital. Caption yang relevan, penggunaan hashtag secukupnya (sekitar tiga hingga lima hashtag), serta interaksi aktif dengan audiens menjadi kunci.

tor yang mengisi acara Open Mind for Student di Hotel Santika Premiere Gubeng, Sabtu (10/1/2026). (Fitri Yuliani/beritajatim.com)
Membalas komentar, menurutnya, bukan hanya soal etika, tetapi juga sinyal kuat bahwa akun tersebut aktif dan layak mendapat distribusi lebih luas dari algoritma. Namun, di balik tuntutan konsistensi, Dasha mengingatkan bahaya burnout. Ia menyarankan kreator menjaga kesehatan mental dengan membangun sistem dukungan emosional.
“Setidaknya miliki satu orang yang kamu percaya, yang bisa menjadi tempat berbagi dan memberi dukungan ketika lelah,” pesannya. Konsistensi yang sehat, bukan paksaan, adalah fondasi jangka panjang seorang kreator.
Pada tahap yang lebih profesional, Dasha memperkenalkan konsep final creator set up. Ini mencakup struktur kerja yang rapi, seperti mencantumkan kontak yang jelas (WhatsApp dan email), menentukan platform utama (Instagram, YouTube, TikTok, dan lainnya), serta memperjelas jenis kerja sama atau konten yang dapat diterima. Penetapan harga juga menjadi aspek krusial.
Ia menegaskan bahwa setiap kreator wajib memiliki rate card, menjaga konsistensi harga, dan tetap memegang value meski proses negosiasi dengan brand terbuka. Portofolio dan bukti kerja sama sebelumnya menjadi senjata utama dalam membangun kredibilitas.
Selain Dasha, acara yang mengusung tema “Think Global, Create Impact” dan diikuti oleh 50 siswa terpilih dari berbagai latar belakang, tersebut juga menghadirkan narasumber inspiratif lainnya, Anna Mikhaylyants, lulusan Harvard University.
Anna berbagi perspektif tentang perjalanan hidup dan kariernya, menekankan pentingnya keberanian mengambil peluang, berpikir global, serta membangun dampak nyata melalui kompetensi dan karakter.
Kehadiran para narasumber ini merupakan bagian dari inisiatif Jaya Group melalui program Open Mind for Student, sebuah ruang belajar yang dirancang untuk memperluas wawasan dan pola pikir pelajar Indonesia. Di tengah arus globalisasi dan disrupsi teknologi, generasi muda dituntut tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif, tangguh, dan visioner.
“Saya percaya kegiatan Open Mind for Student ini akan memberikan dampak signifikan bagi kemajuan Indonesia. Dengan mengembangkan leadership, entrepreneurship, dan global mindset, kita sedang menyiapkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan global,” ujar Tomy Suhartanto, Direktur Jaya Group. (fyi/kun)






