Magetan (beritajatim.com) – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Magetan menegaskan tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi penetapan harga yang diberlakukan pelaku usaha rumah makan di kawasan wisata Telaga Sarangan, menyusul polemik harga selangit yang ramai diperbincangkan publik.
Kepala Disbudpar Magetan, Joko Trihono, menyatakan pemerintah daerah tidak dapat menekan atau mencampuri harga jual yang ditetapkan masing-masing pengusaha, termasuk dalam kasus viral Rumah Makan Prima Rasa yang menuai sorotan wisatawan.
“Secara prinsip kami tidak berani masuk ke ranah penetapan harga, karena kami tidak mengetahui biaya produksi yang dikeluarkan masing-masing pelaku usaha,” ujar Joko.
Menurutnya, kewenangan pemerintah daerah dalam sektor pariwisata lebih difokuskan pada pembinaan dan pengawasan etika usaha, bukan pada penentuan harga. Joko menyebut rumah makan yang menjadi sorotan publik tersebut telah memasang daftar harga sebagai bentuk keterbukaan informasi kepada konsumen.
Disbudpar Magetan, kata dia, hanya dapat menekankan pentingnya etika usaha agar tidak terjadi praktik getok harga yang berpotensi merugikan wisatawan dan mencederai citra destinasi wisata Telaga Sarangan.
Sebagai langkah pencegahan agar polemik serupa tidak terulang, Disbudpar terus mengedukasi wisatawan agar menjadi konsumen yang cerdas dengan menanyakan harga sebelum memesan makanan atau minuman. Menurut Joko, kesadaran wisatawan menjadi faktor penting dalam menjaga iklim pariwisata yang sehat.
Di sisi lain, ia mengingatkan para pelaku usaha jasa pariwisata agar menjaga kualitas pelayanan dan kepercayaan pengunjung. Joko menilai keberlangsungan pariwisata Telaga Sarangan sangat bergantung pada pengalaman wisatawan saat berkunjung.
“Kalau pelayanan terus mencederai konsumen, wisatawan tentu akan berpikir ulang untuk datang kembali,” tegasnya.
Disbudpar Magetan juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga citra Telaga Sarangan sebagai destinasi unggulan Kabupaten Magetan, agar polemik harga tidak berdampak pada penurunan minat kunjungan wisatawan. [fiq/beq]







32 Komentar
masukan juga agar kebijakan pemakaian kursi dari warung utk pembeli yg mau menggunakan di pinggir waduk disamakan, karena ada yg boleh dan ada yg tidak jadinya terjadi kecemburuan antar warung, berakibat kurang nyamannya pengunjung/pembeli
ya paling2 nantinya ditinggal para wisatawan, rugi sendiri kan?
nah ini baru cerdas …sebenarnya yang rugi itu daerah di aspek ekonomi akan lama lama menurun…
saya sebagai warga Magetan ikut malu.pak de. membaca komentar pengunjung yg pernah kesana.
boleh jadi Rohana dulu…kalau simpel warung wajib pasang harga
beli yg ada tarif harga makanan aja aman..
Bentar lg nyusul Grojogan Sewu nasibnya
maaf skr sdh tdk ke sarangan cari obyek lain saja.. takuut
kalau nginep disana dah bawa bekal aja 😜😜 bawa hotpot bikin sendiri, kopi bikin sendiri.
ntar perjalanan pulang baru cari resto di wilayah lain..yg pasti² ajalah. 😁😁😁
disana tu kenapa ya gak support banget penduduknya.
harusnya tu berikan kenyamanan ke wisatawan. Dah jajan dipinggir danau aja suka rame.
Saran buat kalian kalau nginep disana dah bawa bekal aja 😜😜 bawa mug listrik sendiri,, hotpot bikin sendiri, kopi bikin sendiri.. anggep aja kemping
ntar perjalanan pulang baru cari resto di wilayah lain..yg pasti² ajalah. 😁😁😁
bukan wisatawannya pak yang kurang cerdas, tapi Kepala Dinasnya sendiri yang sangat tidak cerdas. Mestinya hrs tanggap dengan keluhan publik..
kalo Kadisnya begitu, dan membiarkan kondisi seperti itu.. lama kelamaan..telaga sarangan akan jadi sepi..boss..
disana tu kenapa ya gak support banget penduduknya.
harusnya tu berikan kenyamanan ke wisatawan. Dah jajan dipinggir danau aja suka rame.
Saran buat kalian kalau nginep disana dah bawa bekal aja . bawa mug listrik sendiri,hotpot bikin sendiri, kopi bikin sendiri.. anggep aja kemping
ntar perjalanan pulang baru cari resto di wilayah lain.yg pasti² ajalah. dah gampang
aneh klu ka,dinas menyuruh tny harga lebih dulu, nama nya memalu kan pak Joko, hrs nya dinas beri kan sangsi tindakan nyata bukan justru wisatawan yg jadi korban trs, sudah berulangkali ,ambil contoh spt di Jogya itu tegas ,ini pembelajaran juga buat di as terkait
ah lemah Kadis nya.. Coba di contoh di Pantai Gunung Kidul
ya ditegur to pak kok nggak mau tahu
sdh sering kejadian harga gila kenapa masih beli juga apa ga pernah baca berita
setelah saya baca berita tersebut kepala dinas pariwisata membela pedagang yang ada di telaga sarangan.
1. mengejek tamu wisata supaya cerdas menanyakan harga makanan supaya tdk ada getok harga itu tdk etis.
kepala dinas pariwisata ini koplak apa ODGJ, seharusnya ada pembinaan suruh masang tarif menu yang dijual disetiap warung yg ada.
2. tanggung jawab kepala dinas pariwisata itu apa ? saya malas berwisata di telaga sarangan dgn adanya kejadian seperti itu.
3. terserah wisatawan masih pergi ke telaga sarangan apa tdk. saya senang ke tempat lain yg ramah tdk pernah getok harga. contoh di Semarang, Jogja, Solo dll menghindari kekecewaan
telaga sarangan biasa aja, ga istimewa. ga tertarik.
dusbudpar berwenang mengatur dan memberi sangsi, karena efek dari perbuatan pedangang memperburuk citra pariwisata sarangan. jangan cuma himbauan. perlu supervisi/ ceking aturan.
wisatawan sebaiknya gak usah beli di warung situ, bawa saja bekal dari rumah atau beli diluar
pemda setempat bs membuat aturan tarif dasar berbagai layanan yg ada disekitaran telaga sarangan, buat pengusaha yg patuh dpt potongan pajak, buat yg ga patuh sanksinya dpt pajak tambahan dan sanksi dr pengunjung[sepi]. jangan sampai semua wisatawan datang ke telaga sarangan hanya nikmati pemandangan tp transaksi ekonominya di madiun ato magetan
Bukan mengtur harga, tetapi mewajibkan setiap warung menyediakan daftar menu dan harga yg ditempel. Yg dikeluhkan adalah jebakan batman ini.
klo kesana jajan yg mumer sj,spt sate kelinci,dan bakso . jika pagi sarapan pecel,selebihnya bawa bekal mie cup sj klo nginep
Silahkan yang mempunyai kawasan wisata, bikin tarif mahal , bikin pungutan dan hrg mencekik , paling tak lama tempat wisata atau Pusat makan tidak akan di datangi oleh pelancong atau pecinta kuliner
saya sebagai warga Magetan ikut malu.pak de. membaca komentar pengunjung yg pernah kesana.
taruh barangnya di etalase Dan diberi harga pasti pas
Itu Kadis Pariwisatanya agak koplak..
cantumkan harga menu atau biaya fasilitas2 yg tertera jelas di pintu masuk atau jendela depan di tiap2 tenant, tinggal di awasi verivikasi aja tiap bulan…. kalo ada perubahan harga tapi nilai yg lama masih tertera berarti pake yg tertera… wes ngono wae podo2 fair
pejabat odgj
Tanda-tanda akan ditinggalkan wisatawan
KECING 5000
BERAK 5000
MANDI 10000
Paling tdk Kadis Pariwisata bisa menertibkan para pelaku usaha dg mewajibkan menampilkan DAFTAR HARGA yg jelas ,& mudah dibaca.