Jeddah (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menyediakan sebanyak 75 dapur yang berada di Makkah dan Madinah pada musim haji 2026. Seluruh dapur ini akan melayani kebutuhan makan dan minum jemaah Indonesia sepanjang pelaksanaan ibadah haji.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj RI, Harun Al Rasyid, menegaskan bahwa pihaknya terus memastikan setiap kebijakan dapat terimplementasi secara nyata di lapangan.
Menurutnya, keberhasilan program ini bertumpu pada kerja sama yang terbangun secara jelas, terukur, dan profesional antara dapur katering, importir, dan supplier Indonesia.
“Yang kami dorong bukan hanya komitmen, tapi kepastian pelaksanaan. Kemenhaj memastikan dapur benar-benar menggunakan produk Indonesia, didukung skema harga dan mekanisme pembayaran yang jelas agar layanan kepada jemaah berjalan optimal,” ujar Harun mengutip website Kemenhaj RI, Senin (29/12/2025).
Sebagai bentuk kesiapan operasional, pemerintah telah menetapkan 52 dapur di Makkah dan 23 dapur di Madinah untuk melayani jemaah haji Indonesia.
Seluruh dapur tersebut diwajibkan menggunakan produk Indonesia, mulai dari Ready to Eat (RTE), makanan segar, hingga bumbu pasta, sebagaimana diatur dalam kontrak penyelenggaraan haji.
Cita rasa makanan sering kali menjadi pengobat rindu bagi jemaah haji Indonesia. Kesadaran inilah yang mendorong pemerintah Indonesia terus berupaya menghadirkan cita rasa Nusantara di Tanah Suci. Salah satunya melalui pemanfaatan produk RTE dan bumbu pasta asal Indonesia untuk konsumsi jemaah haji 2026.
Salah satu langkah konkret itu terlihat dalam pertemuan yang digelar Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah bersama para importir Arab Saudi, Minggu (28/12/2025).
Pertemuan ini menjadi ruang dialog untuk memastikan kesiapan implementasi dan pemanfaatan produk RTE dan bumbu pasta asal Indonesia sebagai bagian dari layanan konsumsi jemaah haji Indonesia 2026.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, mengatakan bahwa kebijakan ini bukan sekadar soal pasokan makanan. “Ini tentang menghadirkan layanan yang responsif terhadap kebutuhan jemaah dan kenyamanan rasa yang familiar bagi jemaah,” katanya.
“Layanan yang prima dimulai dari pemahaman atas kebutuhan jemaah. Konsumsi yang sesuai selera dan standar mutu jadi salah satu faktor penting agar jemaah dapat beribadah dengan lebih tenang dan nyaman,” tambahnya.
Di balik bumbu dan kemasan RTE yang akan tersaji di Tanah Suci, terdapat kerja keras para UMKM dan produsen pangan di Tanah Air. Karena itu, pemerintah berupaya memastikan seluruh rantai pasok berjalan dengan baik, dari proses produksi hingga penyajian di dapur haji Saudi.
Dalam pertemuan itu, para importir menyambut baik langkah Kemenhaj yang mendorong kejelasan peran dan dukungan kelembagaan guna memastikan proses transaksi berjalan lancar. Kepastian pembayaran dinilai jadi faktor penting agar produsen dan UMKM di Indonesia dapat berproduksi secara berkelanjutan dengan rasa aman.
Karena itu, pemerintah segera membagikan data dapur, daftar supplier Indonesia yang telah tersertifikasi, dan importir yang memenuhi persyaratan. Langkah ini jadi bagian dari upaya percepatan koordinasi, pemesanan, dan distribusi, sehingga produk Indonesia dapat tersedia tepat waktu menjelang musim haji. [air]






