Kediri (beritajatim.com) – Di balik prestasi gemilang Indonesia pada SEA Games 2025 di Thailand, tersimpan kerja keras dan pengorbanan panjang yang dijalani Rendy Varera Sanjaya, atlet balap sepeda asal Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, yang sukses meraih medali perak nomor Downhill dan medali emas nomor XC Eliminator.
Persiapan Rendy terbilang panjang dan matang. Bahkan satu bulan sebelum mengikuti training camp nasional, ia lebih dulu tampil pada Kejuaraan Asia Champions di China pada April 2025.
Usai dari ajang tersebut, Rendy langsung dipanggil mengikuti training camp (TC) Pelatnas yang dimulai sejak awal Mei hingga Desember 2025 sebagai bagian dari persiapan SEA Games.
“Jadi, untuk persiapan sudah sangat siap pastinya karena sudah jauh-jauh hari ada Mei, Juni sampai dengan Desember. Itu sudah cukup siap karena latihannya sudah lama juga,” ujarnya, Selasa (16/12/2025).
Demi menghadapi SEA Games 2025, Rendy bahkan berangkat lebih awal ke Thailand pada 3 Mei untuk melakukan adaptasi. Ia mengakui perbedaan cuaca dan karakter lintasan menjadi tantangan tersendiri.
Jika selama TC di Yogyakarta udara relatif sejuk, lintasan pertandingan di Thailand berada di kawasan pesisir dengan suhu yang jauh lebih panas.
“Yang untuk treknya di sana itu pinggir pantai, jadi panas banget. Perlu penyesuaian. Jadi mungkin penyesuaian itu, dan harus siapin mental karena ini sea games pertama,” katanya.
Rendy mengungkapkan tekanan terbesar justru datang dari tuan rumah Thailand. Namun pengalaman bertanding di level Asia membuatnya lebih percaya diri menghadapi persaingan di Asia Tenggara.
Sebelumnya, Rendy telah mengoleksi medali perunggu Kejuaraan Asia 2023 di India dan 2024 di Malaysia, serta menempati posisi keempat pada Asia Champions 2025 di China.
Pada SEA Games 2025, Rendy menjadi satu-satunya atlet putra Indonesia yang turun di nomor Cycling Mountain Bike Men’s Downhill dan XC Eliminator.
Total, tim MTB Indonesia hanya diperkuat tiga atlet, dua di antaranya atlet putri asal Sumedang dan Lumajang.
Menurut Rendy, kepercayaan membela Indonesia di SEA Games tidak datang secara instan. Ia telah tiga kali mengikuti TC Pelatnas, namun baru pada 2025 dipercaya turun langsung dalam ajang multievent terbesar Asia Tenggara tersebut.
“Soalnya syaratnya dari latihan konsisten semua harus, kita harus stabil. Mungkin yang paling berpengaruh juga dari mental juga kalau kita perform sebagus apapun kalau mentalnya enggak kuat, enggak akan bisa menopang itu semua,” tegasnya.
Di balik keberhasilannya, tersimpan kisah pengorbanan besar. Demi memenuhi kebutuhan perlengkapan bertanding, Rendy bahkan rela menjual mobil pribadinya untuk membeli sepeda enduro yang digunakan di SEA Games.
“Jadi, ada sedikit besar pengorbanan dari mungkin latihan jauh dari keluarga, satu. Kedua, saya jual mobil untuk beli sepeda buat persiapan Sea Games. Jadi, sempat izin ke istri, ‘Dijual dulu ya, nanti buat main dulu. Kalau ada rezeki kita beli lagi.’ Dijual dengan cepat karena sepeda juga harus, butuhnya sangat cepat,” kenangnya.
Perjalanan Rendy tak lepas dari dukungan keluarga. Sang ayah, Heru, menyebut kecintaan Rendy terhadap sepeda sudah terlihat sejak usia dini.
“Kalau senang sepeda itu sudah sejak kecil, bahkan di usia 2 tahun sudah bisa naik sepeda. Sepeda itu pun dibawa masuk ke kamar untuk sudah jadi teman tidur sampai kemarin,” ujar Heru.
Ia mengaku selalu menanamkan motivasi sederhana kepada sang anak setiap kali menghadapi kejuaraan.
“Untuk latihan motivasi, hari ini harus lebih baik dari yang kemarin,” imbuhnya.
Bagi Rendy, dukungan keluarga menjadi sumber kekuatan utama sepanjang kariernya. Menjelang keberangkatan hingga hari pertandingan, komunikasi dengan orang tua, istri, dan anaknya tidak pernah terputus.
“Pastinya sebelum final, sebelum berangkat saya telepon ayah, ibu, istri juga pamitan sama anak. Jadi, kalau saya pamit, dia senang, wah, saya ke sana loh. Dia senang, dia merestui, berarti saya harus menang,” tandasnya. [nm/ian]






