Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswi Program Studi Desain dan Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya), Jeanne Theresia Mintarja, menciptakan produk home decor berbahan limbah kantong teh.
Inovasi ini berangkat dari kebiasaan konsumsi teh di lingkungan keluarga serta kekhawatirannya terhadap kandungan mikroplastik pada kantong teh yang berpotensi mencemari lingkungan.
Jeanne mengatakan ide tersebut berkembang menjadi riset tugas akhirnya sejak semester lima atau sekitar satu tahun terakhir. Prosesnya dimulai dari pengumpulan bahan hingga pembuatan produk satu per satu.
“Paling sulit justru menentukan produknya. Saya fokus di material, lalu bagaimana material ini bisa menjadi produk yang diterima masyarakat,” ujarnya, Selasa (9/12/2025).
Ia menjelaskan proses pengolahan kantong teh dilakukan dengan memisahkan kantong yang masih putih dan yang sudah digunakan. Seluruh bahan kemudian diblender dengan air hingga menjadi bubur.
Bubur tersebut selanjutnya dicetak menjadi lembaran seperti proses daur ulang kertas atau dipadatkan menggunakan cetakan khusus, tergantung bentuk produk yang diinginkan.
Dari pengembangan tersebut, Jeanne kini memproduksi tiga jenis utama home decor, yakni tray atau alas serbaguna, jam meja, dan lampu meja. Ketiganya masih didominasi warna cokelat alami dari sisa seduhan teh.
Ke depan, ia berencana mengembangkan variasi warna dengan tetap menggunakan bahan organik, termasuk dari pewarna makanan.
Produk-produk ini akan mulai dipasarkan pada pameran tugas akhir yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Januari 2026 mendatang. “Nanti ada pameran. Saya akan mulai jualan di situ,” ungkap Jeanne.
Jeanne mematok harga mulai dari kisaran Rp100 ribu untuk produk coaster, dengan penyesuaian tergantung bentuk dan alat produksi yang digunakan.
Jeanne juga telah memberi merek pada karyanya dengan nama Dipt, yang diangkat dari makna ‘tercelup’ sebagai simbol bahan limbah yang biasanya dibuang, tetapi kini diolah kembali menjadi produk baru.
Ia juga memilih tagline Brew Renewed untuk menegaskan konsep pembaruan dari limbah seduhan teh menjadi barang fungsional bernilai jual. [ipl/kun]






