Malang (beritajatim.com) – Hawa dingin terasa menusuk di Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu di sore itu. Aroma segar tercium saat menghirup udaranya. Jarak pandang pun pendek lantaran kabut yang menebal. Maklum, desa itu baru saja diguyur hujan.
Dalam dingin itu, menikmati kopi adalah pilihan tepat. Dan Retrorika Coffee Bar & Resto menjadi tempat yang cocok bersantai di tengah senja yang lembap itu. Kafe ini cukup unik. Nuansa tempo dulu kuat melekat di setiap sudut. Dinding bata tanpa plamir dibiarkan telanjang, menyatu dengan kusen pintu dan jendela dari kayu tua yang catnya mengelupas artistik.
Di bagian interior, barang bekas menjadi elemen utama. Tabung elpiji 3 kilogram bekas disulap menjadi kursi, sementara televisi tabung cembung yang mati, radio transistor tua, hingga tangki bensin motor bekas beralih fungsi menjadi dekorasi ruangan. Bahkan, kerangka televisi bekas dipermak menjadi wastafel penampung air.
Ada yang lebih menarik. Tepatnya di bagian depan kafe. Di sana, peringatan tegas namun santun terpampang di pintu masuk. “No Plastic Straws, No Tissues, No Food Waste”. Itu bunyinya.
Swiss, pemilik sekaligus konseptor Retrorika Coffee Bar & Resto, memang sengaja menggunakan barang-barang bekas untuk interior kafenya. Termasuk penggunaan kaleng biskuit dan sepatu booth bekas untuk pot tanaman. Bahkan, dia dengan lugas menyebut tidak menyediakan tissue untuk membersihkan tangan.
“Di sini, tisu tidak disediakan. Sebagai gantinya, kami menyediakan serbet kain dan saputangan yang bisa dicuci ulang,” ungkap Swiss.
Swiss memang punya visi dalam pemanfaatan barang-barang bekas di kafenya. Dia seolah ingin mengajak setiap pengunjung untuk melakukan Gerakan recycling. Memanfaatkan barang-barang bekas agar tak hanya teronggok sebagai sampah.
”Menarik sekali. Banyak hal yang sama sekali tidak kita pikirkan ada di sini. Seperti tabung elpiji 3 kilogram bekas, didesain sedemikian rupa jadi kursi yang nyaman,” ujar Irham, seorang mahasiswa yang berkunjung pada Kamis (4/12/2025), mengamati detail interior di sekelilingnya.
Di meja sebelah, sekelompok anak muda berlogat Jakarta tampak asyik berbincang. Di hadapan mereka, tidak ada gelas plastik berlogo. Minuman dingin mereka tersaji dalam gelas kaca dengan sedotan stainless steel. Tidak ada sampah plastik yang tertinggal saat mereka beranjak pergi.
Komitmen ini tidak berhenti di meja makan. Di area taman kecil yang dinamakan “Junk Garden” (Taman Sampah), pot-pot tanaman hias mulai dari aglonema, kaktus, hingga janda bolong ditanam bukan di pot plastik baru, melainkan di dalam kaleng kerupuk berkarat, bekas kaleng biskuit Khong Guan, rantang nasi lawas, hingga sepatu boots bekas.
Sistem airnya pun dipikirkan matang-matang. Tak jauh dari tempat duduk saya, terdapat kolam ikan mas. Di atasnya, sebuah kran air wudhu mengalir. Air bekas wudhu pengunjung tidak terbuang ke selokan, melainkan disalurkan langsung untuk menyegarkan kolam di bawahnya. Siklus air yang tertutup dan efisien.
Bahkan untuk layanan take away (bawa pulang), Retrorika menolak menggunakan kantong kresek atau styrofoam. Di depan meja kasir, beberapa pengunjung tampak menanti pesanan mereka yang dibungkus dengan besek (anyaman bambu). Di sudut lain, tempat sampah terpilah rapi: organik, plastik, dan kertas.
“Sampah-sampah ini sebagian akan dibawa ke Bank Sampah Elha Kota Batu. Kami juga mendapatkan suplai barang bekas untuk dekorasi dari bank sampah tersebut,” tulis manajemen Retrorika dalam salah satu kampanye digital mereka.
Malang yang “Malang”
Kehadiran Retrorika, bisa dibilang sebuah anomali jika diperhadapkan dengan kondisi Kota Malang saat ini. Ia bagaikan laboratorium hidup yang membuktikan bahwa sampah bisa naik kelas. Di tengah gempuran industri coffee shop yang memuja kecepatan, Retrorika muncul dari dataran tinggi Bumiaji sebagai pengingat bahwa bisa saja menikmati kopi tanpa harus melukai bumi.
Sungguh kontras dengan realita yang tersaji di Kota Malang. Kesahajaan yang dulu menjadi ikon daerah berjuluk Kota Apel itu musnah. Terkikis egoisme peradaban urban. Membuatnya menjadi daerah yang benar-benar “malang”.
Mari sejenak melirik Sudimoro. Kawasan yang kini dikenal sebagai salah satu pusat denyut nadi perkopian kota. Ribuan mesin espresso berdesis serentak. Di sini, di antara deru tawa mahasiswa dan pendar lampu estetis, tersaji sebuah ironi yang jarang terhidang di buku menu. Ribuan kedai kopi (coffee shop) tumbuh bak cendawan di musim hujan, namun kesadaran lingkungannya tak setinggi di Bumiaji.
Ryan, seorang pengamat gaya hidup sekaligus pegiat kopi di Malang, menganalisis fenomena ini sebagai pergeseran budaya pasca-pandemi yang mengkhawatirkan. “Konsep kafe di Sudimoro mulai terasa monoton dan kurang relevan dengan gaya hidup generasi muda Malang saat ini yang cenderung serba up-to-date dan sangat konsumtif,” jelas Ryan.
Menurutnya, Malang yang dulu bersahaja kini atmosfernya mulai menyerupai kota metropolitan yang hedonis. “Eksklusivitas kafe seringkali dibarengi dengan kemasan-kemasan estetik yang ujung-ujungnya jadi sampah,” tambahnya.
Budaya Sekali Buang
Di sinilah letak masalah terbesarnya: budaya “sekali buang”. Inonk, seorang barista di Malang, mengakui bahwa dalam rantai bisnis kopi modern, sampah seringkali menjadi urutan terakhir dalam prioritas. “Jujur saja, yang tak terpikirkan oleh banyak pemilik coffee shop adalah soal sampahnya. Fokusnya hanya jualan, omzet, dan rasa,” akunya.
Hal senada diungkapkan Paeng, barista di kedai kopi ‘Setunggal’. Penggunaan kemasan sekali pakai (single-use plastic) dipilih bukan karena ketidaktahuan, melainkan hitungan ekonomi. “Lebih murah, tidak perlu cuci gelas, praktis. Itu saja alasannya,” ujarnya.
Sementara Ian, barista lain, menambahkan bahwa konsumenlah yang menuntut minuman grab and go, bisa dibawa, difoto logonya, lalu dibuang begitu saja. Bisa dibayangkan, jika dalam satu kedai kopi berskala menengah saja mampu menjual rata-rata 100 gelas es kopi susu per hari. Itu artinya, ada 100 gelas plastik, 100 tutup plastik, 100 sedotan, dan 100 kantong kresek yang lahir dalam sehari.
Dalam satu bulan, satu kedai ini menyumbang 3.000 set sampah plastik. Itu baru satu kedai. Padahal, di Malang Raya, jumlah kedai kopi menjamur hingga ratusan bahkan mungkin ribuan, dari yang berbentuk kafe megah hingga rombong sepeda listrik di pinggir jalan. Jika dikalikan, angkanya menjadi fantastis: ratusan ribu hingga jutaan gelas plastik menjadi sampah setiap bulannya, hanya dari satu jenis minuman.
Lantas, ke mana perginya gunungan plastik itu? Apabila plastik-plastik itu dibuang sembarangan, bisa dibayangkan dampak kelestarian lingkungan di Kota Malang. Tanah akan teracuni, saluran air tersumbat menyebabkan banjir, dan keindahan kota pendidikan ini perlahan tenggelam dalam residu gaya hidup warganya sendiri.
Bom Waktu Bernama Mikroplastik
Fakta di lapangan memperkuat kekhawatiran ini. Alaika Rahmatullah dari Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton Foundation), memaparkan data yang membuat bulu kuduk berdiri.
“Setiap hari, Kota Malang memproduksi rata-rata 778,34 ton sampah. Dari jumlah itu, plastik menyumbang 13,7 persen, atau setara dengan lebih dari 106 ton limbah plastik per hari yang terus menumpuk,” ungkap Alaika.
Namun, bahaya terbesar bukanlah sampah yang tampak, melainkan yang tak kasat mata: Mikroplastik. Alaika menjelaskan proses biologis mengerikan ketika plastik terurai menjadi partikel mikroskopis dan masuk ke tubuh manusia. Prosesnya dimulai dari Opsonisasi, di mana protein dalam tubuh membungkus permukaan mikroplastik.
“Setelah itu terjadi absorbsi, penyerapan oleh usus halus. Mikroplastik ini masuk melalui celah antar sel atau ditangkap oleh sel imun,” jelas Alaika merinci.
Tahap selanjutnya adalah Eksositosis, di mana mikroplastik menembus lapisan pelindung, masuk ke pembuluh, dan berenang mengikuti aliran darah. “Akhirnya, plastik dari gelas kopi yang kita buang sembarangan itu bisa berakhir mengendap di jantung, otak, paru-paru, dan hati kita sendiri,” peringatnya. Ini adalah bom waktu kesehatan bagi warga Malang.
Nyala Lilin dari Dunia Kampus
Melihat ancaman nyata kerusakan lingkungan dan kesehatan ini, institusi pendidikan di Malang tidak tinggal diam. Kampus mulai bergerak menjadi katalis perubahan, mencoba menambal kebocoran yang dibuat oleh industri gaya hidup. Mereka sadar, sebagai kota pendidikan, kampus harus menjadi contoh perubahan perilaku.
Universitas Negeri Malang (UM) baru-baru ini membuat terobosan dengan menjadi kampus pertama di Malang yang mengoperasikan mesin penukar botol plastik (Reverse Vending Machine). Mesin ini dipasang gagah di Lobi Graha Rektorat UM, hasil kerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI).
Ketua Green Campus UM, Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., menegaskan posisi strategis alat ini. “Kebetulan ini satu-satunya di Malang, terutama di perguruan tinggi. Mesin ini bukan sekadar tempat sampah canggih, tapi sarana edukasi. Setiap botol yang dimasukkan akan memberikan reward poin yang bisa diuangkan lewat aplikasi Plasticpay,” ujarnya.
Prof. Sumarmi menambahkan, layar di mesin tersebut juga menampilkan data real-time tentang jejak karbon yang dikurangi. “Jadi mahasiswa tahu, tindakan kecil mereka berdampak nyata bagi alam.”
Sementara itu, Politeknik Negeri Malang (Polinema) mengambil pendekatan berbeda melalui penghijauan masif untuk menyeimbangkan emisi. Direktur Polinema, Supriatna Adhisuwignjo, ST., MT., menyatakan bahwa infrastruktur fisik kampus harus diimbangi dengan ruang terbuka hijau.
“Kami berupaya memanfaatkan setiap ruang terbuka untuk ditanami pohon agar proporsi antara bangunan beton dan ruang hijau seimbang. Ini cara kami menanamkan kesadaran pada mahasiswa. Program ini tidak hanya di kampus Malang, tapi juga di PSDKU Kediri dan Lumajang,” jelas Supriatna.
Polinema juga mengambil langkah yang lebih struktural. Supriatna Adhisuwignjo menjelaskan bahwa pihaknya tidak hanya melihat tumpukan sampah sebagai masalah kebersihan, tetapi juga cerminan krisis global yang menuntut respons akademis. Baginya, bencana lingkungan yang kian akrab di berbagai daerah harus menjadi alarm bagi institusi pendidikan untuk melahirkan solusi, bukan sekadar lulusan.
“Kita perlu memberikan kesadaran bahwa ini menjadi atensi semua kampus. Di sisi lain, ada ruang dan peluang bagi lulusan untuk berkarya dan berkarir di green skill dan green jobs,” ujar Supriatna.
Ia menegaskan bahwa dikotomi antara ekonomi dan ekologi harus diakhiri. Masa depan milik mereka yang mampu menyelaraskan keduanya.
“Kita memanfaatkan alam untuk kesejahteraan manusia, namun jangan sampai kesejahteraan itu menjadi bencana di kemudian hari. Maka, perlu profesi-profesi yang memiliki irisan kuat dengan kelestarian lingkungan,” tambahnya.
Untuk menerjemahkan visi tersebut ke dalam ruang kelas, Polinema kini mengintegrasikan isu lingkungan secara agresif ke dalam kurikulum. Mata kuliah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), misalnya, kini telah berevolusi menjadi K3 dan Lingkungan di berbagai program studi.
Lebih jauh lagi, Supriatna mendorong spesialisasi berbasis energi terbarukan (renewable energy) dan pengolahan limbah, khususnya di jurusan teknik yang selama ini dianggap penyumbang polusi.
“Harapannya, lulusan yang tertarik bisa memilih karir sesuai passion-nya. Teknik Listrik bisa menjadi manajer pembangkit listrik tenaga surya atau bayu (angin). Lulusan Teknik Kimia bisa masuk ke sektor biomassa, dan Teknik Sipil bisa fokus pada green building atau konstruksi ramah lingkungan,” jelasnya. Dengan bekal green skill ini, mahasiswa diharapkan tidak lagi menjadi bagian dari generasi penyumbang emisi, melainkan arsitek peradaban baru yang lebih hijau.
Muara Akhir di Supit Urang: Solusi Skala Industri
Namun, perubahan perilaku di hulu dengan inisiatif sipil seperti Retrorika dan edukasi di tengah kampus membutuhkan waktu setidaknya satu generasi untuk membuahkan hasil. Sementara itu, gunungan sampah di TPA Supit Urang tidak bisa menunggu. Volume sampah Malang Raya yang menembus 1.000 ton per hari menuntut solusi teknis di hilir.
Pemerintah berencana menjadikan TPA Supit Urang sebagai benteng terakhir melalui proyek Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Raymond, pejabat terkait, menjelaskan bahwa lahan seluas 5 hektare telah disiapkan untuk merealisasikan konsep zero waste atau nihil residu secara industri.
“Targetnya realisasi tahun 2027. Hanya sampah anorganik seperti gelas plastik kopi, kaca, dan logam yang akan dimakan mesin ini. Listriknya akan dibeli PLN,” papar Raymond. Ini adalah upaya terakhir ketika pencegahan gagal dilakukan.
Dari ketenangan Bumiaji hingga hiruk-pikuk TPA Supit Urang, terbentang sebuah benang merah. Sampah adalah konsekuensi logis dari kehidupan modern, namun cara memperlakukannya adalah pilihan.
Model bisnis Retrorika membuktikan bahwa profit bisa berjalan beriringan dengan pelestarian alam tanpa mengorbankan kenyamanan. Dukungan kampus seperti UM dan Polinema memberikan landasan intelektual dan teknologi agar gerakan ini tidak mati obor. Sementara PSEL di Supit Urang bersiap membereskan residu yang terlanjur tercipta.
Kini, bola kembali ke tangan para penikmat kopi. Apakah segelas kopi yang digenggam hari ini adalah simbol gaya hidup yang perlahan membunuh bumi? Atau, penikmat kopi berani mengambil langkah kecil, seperti bertanya pada barista, misalnya, “Mas, bisa pakai gelas kaca saja?” sembari mulai menapaki jalan sunyi merawat bumi. [dan/beq]






