Pasuruan (beritajatim.com) – Pendapatan cukai dari wilayah Pasuruan pada tahun 2025 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Hingga November, realisasi cukai baru mencapai angka Rp52,4 triliun.
Kepala Bea Cukai Pasuruan, Hatta Wardana menyebutkan proyeksi penerimaan hingga akhir tahun hanya sekitar Rp58 triliun. Jumlah ini lebih rendah 4 sampai 5 triliun dibanding perolehan tahun 2024.
“Dulu kita pernah tembus Rp62,8 triliun, tapi tahun ini memang agak berat,” kata Hatta. Ia memastikan kondisi tersebut sedang menjadi perhatian pemerintah.
Penurunan ini salah satunya dipengaruhi menurunnya produksi pabrik rokok besar atau Golongan I. Persaingan semakin ketat dengan beredarnya rokok ilegal di pasaran.
“Serangan rokok ilegal ini sangat mengganggu industri resmi,” ujar Hatta. Menurutnya, produk ilegal banyak masuk ke wilayah pemasaran di Sumatera dan Kalimantan.
Selain faktor rokok ilegal, kenaikan tarif cukai selama dua tahun terakhir juga ikut memengaruhi kinerja industri. Harga jual yang tinggi membuat daya saing melemah.
Hatta menegaskan ada harapan baru dengan tidak adanya kenaikan tarif pada 2026 mendatang. “Pak Menteri sudah sampaikan tidak ada penyesuaian tarif, semoga pabrik kembali bergairah,” ungkapnya.
Untuk kontribusi pita cukai di Pasuruan sendiri mayoritas memang berasal dari industri rokok. Sementara kontribusi dari kawasan berikat sangat kecil jika dibanding total penerimaan nasional.
“Dari target 67 triliun, penerimaan dari kawasan berikat hanya sekitar 30 miliar,” jelas Hatta. Jumlah tersebut hanya nol koma sekian persen dari total penerimaan cukai secara keseluruhan.
Hatta mengaku belum bisa menyampaikan target tahun 2026 karena masih menunggu keputusan pusat. Saat ini pihaknya fokus mengejar target 2025 semaksimal mungkin.
“Kalau tahun ini jujur sulit dicapai 100 persen,” tegasnya. Ia menyebut hitungan realistis di akhir tahun tetap bertahan di angka 58 triliun.
Bea Cukai Pasuruan menaruh harapan besar pada empat perusahaan raksasa seperti Gudang Garam, Sampoerna, KT&G, dan Djarum. Namun tahun ini kontribusi mereka ikut melambat.
“Empat perusahaan besar itu jadi tumpuan kita, tapi masih drop,” terang Hatta. Ia menekankan pentingnya memberantas rokok ilegal secara bersama-sama.
Hatta mengajak semua pihak mendukung upaya pengawasan agar penerimaan negara kembali stabil. Pemerintah yakin tren positif dapat diraih lagi dengan kerja sama yang kuat. (ada/ted)






