Ketika desa diminta untuk andil terhadap pembangunan ekonomi, kesan meronta menolak dengan penuh kegetiran. Sahdan selama republik ini hadir, desa selalu menjadi kisah manis dan garda terdepan ekonomi rakyat, desa yang tenang, mengayomi subur dan makmur.
Tidak dipungkiri ini adalah kisah keniscayaan selama ini. Namun sumbangsihnya kian meredup dan terus menyurut masa demi masa. Desa serasa makin sarat beban, mulai merosotnya aset ekonomi desa, sumber daya manusia yang tidak kunjung meningkat, erosi kelembagaan kemasyarakan di desa yang kian nyata, akses ekonomi dan sosial yang belum merata.
Menyisakan disparitas pembangunan desa-kota dengan potret kemiskinan dan ketimpangannya. Tentu pemerintah hadir dengan bertubi-tubi regulasi untuk mengangkat derajat desa. Mereka diminta untuk berbenah melalui serangkaian urat kelembagaan untuk mengalirkan darah ekonomi di nadi perdesaan.
Adalah BUMDes yang diminta menjadi ujung tombaknya. Keyakinan dengan modal kemandirian desa maka perekonomian masyarakat desa dapat mengatasi kesenjangan tersebut. Dengan kemandirian desa maka masyarakat desa akan terhindar dari ketergantungan kepada pihak lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, yang berarti juga akan mengurangi adanya intervensi dari pihak luar dalam pengelolaan atau pengaturan terhadap desa.
Berangkat dengan segebok masalah, Kelompok Riset SDGs atau SDGs Center Universitas Jember, berupaya untuk memecahkan puzzle yang hadir di desa, dengan semangat untuk memecahkan kebuntuan ekonomi dengan memekarkan kelembagaan yang ada di desa di Kabupaten Bondowoso yaitu BUMDes Subur Abadi.
BUMDes Subur Abadi merupakan salah satu unit usaha desa yang berdiri di bawah pengelolaan Pemerintah Desa Jebung Kidul, Kecamatan Tlogosari, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Berdirinya BUMDes adalah salah satu contoh ikhtiar penting untuk menghidupkan kembali denyut ekonomi perdesaan. Meski perjalanan desa sempat meredup, itu bukan akhir cerita.
Di Jebung Kidul, harapan tumbuh ketika warga dan pemerintah desa mulai melihat kembali kekuatan yang selama ini tersimpan. Aset alamnya luas, sumber daya manusianya ulet, hubungan sosialnya kuat, dan modal komunalnya tetap terjaga.
Dari sinilah BUMDes Subur Abadi lahir. Ia tidak sekadar menjadi lembaga usaha, tetapi jembatan antara tradisi desa yang penuh kehangatan dan tuntutan masa depan yang membutuhkan pengelolaan profesional. BUMDes Subur Abadi membuktikan bahwa desa memiliki peluang besar untuk menentukan arah pembangunannya sendiri.
Unit usaha yang dikelola mulai dari toko desa, destinasi wisata edukasi, hingga rencana pendirian Pertasop melalui kemitraan dengan Pertamina. Semua langkah ini menunjukkan bahwa desa bisa membuka diri pada peluang kerja sama yang lebih luas, tanpa kehilangan karakternya sebagai ruang hidup yang mandiri.
Potensi pertanian Jebung Kidul adalah modal besar bagi tumbuhnya usaha desa. Dari tanah yang subur inilah warga mengolah hasil kebun menjadi produk bernilai tambah. Keripik pisang menjadi contoh nyata betapa potensi sederhana bisa menjadi peluang yang menjanjikan jika dirawat dan dikembangkan.
Ketika komoditas lokal diolah dengan kreativitas, desa tidak hanya menghasilkan produk dengan branding kripik pisang 5 jari, tetapi juga menciptakan identitas ekonomi baru. Tantangan tentu masih banyak.
Struktur organisasi BUMDes belum sepenuhnya terbuka, pencatatan keuangan masih tradisional, dan kapasitas SDM perlu ditingkatkan. Namun semua tantangan itu sejatinya adalah jalan menuju perbaikan. Pelatihan digital marketing misalnya membantu pengelola BUMDes mengenalkan produk desa ke dunia luar.
Pelatihan keuangan menciptakan tata kelola yang lebih akuntabel dan transparan. Setiap langkah kecil itu menumbuhkan kepercayaan masyarakat dan meningkatkan kualitas layanan BUMDes.
Adalah pendekatan Asset Based Community Development yang menjadi topik kegiatan pengabdian dan penelitian yang dilakukan oleh tim SDGs Center Universitas Jember dirasa tepat untuk desa seperti Jebung Kidul. Pendekatan ini mengajak warga melihat kekuatan mereka sendiri sebelum melihat kekurangannya.
Aset fisik, manusia, sosial, lingkungan, dan finansial dipetakan untuk mengetahui titik-titik pengungkit pembangunan. Dengan cara ini, program BUMDes tidak lagi berjalan dengan asumsi, tetapi dengan data dan kenyataan di lapangan. Kala petani membutuhkan pupuk, misalnya, BUMDes bisa mengembangkan usaha pengembangan pupuk organik granule yang mendukung kebutuhan itu.
Ketika wisata desa mulai berkembang, BUMDes bisa menyambungkan potensi alam dengan pasar lokal. Keberhasilan pembangunan desa sangat ditentukan oleh rasa memiliki. Kepala Desa Jebung Kidul, Ali Samsidi berkali-kali menegaskan pentingnya keterlibatan warga. Tanpa partisipasi, fasilitas desa mudah rusak dan program jadi sulit berjalan.
Namun pengalaman menunjukkan bahwa jika warga dilibatkan sejak awal, mereka akan merasa menjadi bagian dari perubahan. Musyawarah desa adalah ruang bagi warga untuk menyampaikan pendapat dan memberi arah bagi BUMDes. Dengan cara ini, keputusan tidak hanya menjadi dokumen, tetapi komitmen bersama.
Pemerintah desa juga menghidupkan kembali gotong royong melalui program Kampung Bibit yang melibatkan ratusan kepala keluarga dalam pembibitan sayur. Program ini menambah pendapatan warga dan sekaligus menurunkan tingkat kriminalitas karena warga memiliki aktivitas produktif setiap hari. BUMDes Subur Abadi tinggal memperkuat pola ini sebagai pondasi dari usaha yang berkelanjutan.
Dukungan dari DPRD Bondowoso, DPMD, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur semakin memperkuat jalan BUMDes. Bantuan modal dan pembangunan kantor bukan hanya fasilitas fisik, tetapi wujud kepercayaan bahwa BUMDes mampu membawa perubahan bagi desa. Kepercayaan ini menjadi energi bagi pengelola untuk bekerja lebih baik dan lebih profesional.
Tantangan demi tantangan hadir seakan menguji kesabaran, tak pelak muncul seperti persaingan bisnis Toko Orindo dengan minimarket waralaba, merosotnya kunjungan wisata edukasi, dan kreativitas produk seperti Ecoprint yang belum terasah dan terolah maksimal bukan alasan menjadi mandek.
Sebaliknya, tantangan ini menjadi peluang untuk memperbaiki branding, memperluas pemasaran digital, membangun paket wisata edukatif, dan merintis koperasi merah putih yang sedang direncanakan sebagai wadah ekonomi baru desa. Jika desa ingin maju, BUMDes adalah pintu yang harus dibuka lebar.
Ia memberi ruang bagi desa untuk mengelola asetnya sendiri dan membangun warganya tanpa kehilangan jati diri. Desa yang mandiri bukan berarti desa yang berjalan sendiri, tetapi desa yang berdiri tegak karena mengenali kekuatan dan potensi yang dimiliki.
Tim SDGs Center Universitas Jember hadir pada tahun 2025 dengan program digitalisasi laporan keuangan dan upaya pengembangan digital marketing sebagai upaya optimalisasi asset BUMDes Subur Abadi.
Narasumber yang kompeten dihadirkan untuk mendukung kegiatan yaitu Elisabeth Fransiska Sibarani, S.E., M.SM dan Muhammad Yunus. Kegiatan penelitian dan pengabdian dilakukan berbasis lintas disiplin, dengan diketuai oleh Atik Rahmawati, S.Sos., M.Kesos,Ph.D dari FISIP UNEJ dan disampingi oleh Budhy Santoso, S.Sos., M.Si., Ph.D mengkaji aspek kesejahteraan masyarakat terkait pengelolaan aset.
Aspek keuangan ditangani oleh Dra. Dewi Prihatini, M.M., Ph.D dan Adhitya Wardhono, S,E., M.Si., M.Sc., Ph.D beserta Almas Farah Dinna Dewi, S.E., M.M.dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNEJ, sedangkan aspek lingkungan dan sanitasi ditangani oleh Dr. Luh Putu Suciati, S.P., M.Si dari Fakultas Pertanian dan Lirista Dyah Ayu Oktafiani S.Gz., M.Biomed dari Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Harapan dibentangkan agar BUMDes Subur Abadi menjadi bukti bahwa ketika desa diberi ruang dan didampingi dengan baik, mereka bisa menyusul percepatan pembangunan. Desa tidak harus menjadi tertinggal dalam arus modernisasi. Justru desa bisa menjadi sumber inspirasi pembangunan yang lebih manusiawi, merata, dan berkelanjutan.
Kisah BUMDes Subur Abadi pada akhirnya adalah kisah optimisme. Ini adalah keyakinan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kota besar, tetapi juga oleh desa yang menyalakan harapan. Selama gotong royong terus hidup dan keberanian untuk berubah tidak padam, desa akan selalu menemukan jalannya untuk tumbuh subur dan kian abadi. []






