Surabaya (beritajatim.com) – Inovasi alat panen kelapa sawit berbasis energi terbarukan lahir dari Riau. Bernama PE-NOVTRA, alat ini mampu mengubah setiap getaran mekanik saat panen menjadi energi listrik, membuatnya menjadi alat panen self-charging pertama bagi petani kecil.
Terobosan ini dikembangkan oleh Muhammad Ar Rayan, mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Karyanya berhasil menembus TOP 3 Pertamuda Seed and Scale 2025 kategori Energy Founder, subkategori Energy Future.
PE-NOVTRA menggunakan teknologi piezoelektrik yang mengkonversi tekanan dan gerakan pemanen menjadi sumber daya listrik.
“Setiap ayunan, setiap getaran, semuanya dikonversi menjadi sumber daya listrik untuk mengisi ulang perangkat secara otomatis,” kata Rayan, Rabu (19/11/2025).
Inovasi ini didorong keresahan Rayan, anak seorang petani sawit di Riau, yang melihat proses panen konvensional sangat melelahkan dan memakan biaya operasional tinggi.
“Saya melihat biaya yang dipatok para pemanen sangat tinggi dengan waktu panen yang lama. Cara lama ini membuat pendapatan petani tidak berubah,” ungkap Rayan.
Ia menegaskan, PE-NOVTRA dirancang untuk efisiensi dan kemandirian energi. “Petani dapat bekerja lebih efisien tanpa tergantung pada sumber listrik eksternal. Setiap gerakan panen menghasilkan energi baru,” tegasnya.
Keunggulan utama alat ini terletak pada teknologi piezoelektrik yang memanen energi dari gerakan batang alat atau tarikan pelepasan tandan.
Sistem ini diperkuat dengan teknologi SmartCycle Battery Management. Sistem ini mengatur dua baterai untuk bekerja bergantian otomatis, memastikan suplai energi stabil. Petani tidak perlu lagi khawatir soal isi daya, pembelian baterai baru, atau penghentian kerja mendadak.
Saat ini, PE-NOVTRA telah memasuki pilot project di Riau, tepatnya bersama Koperasi RAM Harapan di Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai. Uji coba ini menjadi langkah awal sebelum pengembangan dan kolaborasi yang lebih luas di sektor perkebunan sawit. [ipl/but]






