Pacitan (beritajatim.com) – Para peternak kambing di Kabupaten Pacitan kembali menghadapi masa sulit. Dalam beberapa bulan terakhir, harga kambing di tingkat peternak turun drastis hingga 40–50 persen. Penurunan harga ini semakin memberatkan, terlebih harga pakan justru melonjak tajam.
Salah satu peternak, Dodik Prahcoyo, warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung, menyampaikan bahwa anjloknya harga membuat para peternak merugi besar. Ia menyebut harga daging lokal yang sebelumnya berada di kisaran Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram, kini hanya Rp40 ribu sampai Rp45 ribu.
“Sedangkan harga belinya lebih tinggi dari harga jual. Di sisi lain, harga pakan naik sampai 40 persen,” ujarnya, Selasa (18/11/2025).
Ia mencontohkan pakan yang tadinya dibeli Rp160 ribu per sak, kini harus ditebus Rp240 ribu. Sementara harga kambing kualitas tinggi (grade A) yang sempat mencapai Rp120 ribu per kilogram, merosot menjadi hanya Rp60–70 ribu.
Menurut Dodik, penurunan harga ini tidak lepas dari melemahnya daya beli masyarakat akibat efisiensi anggaran di tingkat pusat. Selain itu, masuknya daging impor juga menekan harga daging lokal di pasaran.
“Keran impor daging dibuka, daging dari negara lain masuk dengan mudah. Dampaknya terasa sampai peternak kecil seperti kami,” ungkapnya.
Dodik yang juga anggota DPRD Kabupaten Pacitan menilai perlu adanya langkah taktis agar sektor peternakan tidak semakin terpuruk.
Usulan Solusi: Pakan Murah dan Pasar Baru
Meski kondisi sulit, Dodik mendorong peternak tetap bergerak untuk bertahan. Salah satu gagasannya adalah menciptakan pakan alternatif yang lebih murah namun tetap memenuhi kebutuhan nutrisi kambing.
“Ini untuk sekadar survive dulu. Kita harus berani menciptakan pakan murah. Walaupun saya sendiri belum menjalankan, tapi komunikasi dengan teman-teman peternak terus dilakukan untuk mengonsepkan pakan murah ini,” jelasnya.
Selain itu, ia mengusulkan agar pemerintah daerah membuka ruang pemasaran baru bagi peternak, misalnya melalui bazaar daging rutin yang memungkinkan peternak menjual langsung ke masyarakat.
“Mungkin terdengar sederhana, bahkan konyol. Tapi insyaAllah ini bisa berdampak pada pelaku ternak, baik yang menjadikan ternak sebagai usaha sampingan maupun sebagai mata pencaharian utama,” lanjutnya.
Dodik berharap semua pihak—pemerintah, peternak, hingga pelaku usaha—memiliki keberanian untuk berinovasi agar sektor peternakan kambing tidak semakin terjepit oleh kenaikan biaya pakan dan derasnya daging impor. (tri/but)






