Pacitan (beritajatim.com) – Gelaran budaya Rawat Jagat (RJ) #4 resmi dimulai dari pesisir Pantai Pangasan, Desa Kalipelus, Kecamatan Kebonagung, pada Minggu (2/11/2025). Tahun ini, festival budaya tahunan besutan Konsorsium Kangen Pacitan itu mengangkat tema “Sluman, Slumun, Slamet” yang sarat pesan moral dan spiritual.
Ketua Konsorsium Kangen Pacitan, M. Abdillah Yusuf, menjelaskan bahwa tema tersebut menggambarkan sikap hidup orang Jawa yang penuh kesabaran, rendah hati, serta selalu berserah diri kepada Tuhan agar diberi keselamatan.
“Tema ini mengajarkan kita untuk hidup dengan sabar, tidak terburu-buru, tetap rendah hati, dan senantiasa berdoa agar diberi keselamatan,” ungkap Yusuf ditulis Senin (3/11/2025).
Menurutnya, Rawat Jagat bukan hanya ajang pertunjukan seni, melainkan juga perwujudan rasa syukur dan doa bersama untuk menjaga alam serta budaya Pacitan.
“Ini bukan sekadar festival, tapi juga bentuk kepedulian terhadap jagat Pacitan. Melalui doa di pesisir, kita berharap keselamatan dan kesejahteraan bagi masyarakat Pacitan,” tambahnya.
Rangkaian pembuka festival di Pantai Pangasan dimulai dengan prosesi Doa Pesisir, diiringi berbagai pertunjukan seni tradisi seperti arak tumpeng, umbul donga, murak tumpeng, Tari Keling, rontek Kalipelus, dan seni tayub.
Selain itu, panitia juga menyiapkan sejumlah kegiatan pendukung seperti Workshop Sinoman, pemutaran film Sinoman, serta puncak acara Festival Rawat Jagat yang akan digelar di Alun-Alun Pacitan pada 22 November mendatang.
Penampilan spesial Tari Gembluk Kromomedjo dari Desa Klepu, Kecamatan Sudimoro, turut menjadi daya tarik tersendiri dalam gelaran budaya kali ini.
Dengan konsep festival budaya, Rawat Jagat 2025 diharapkan menjadi ruang dialog kreatif antara tradisi lokal dan seni kontemporer. Selain memperkuat ekosistem kebudayaan, kegiatan ini juga membawa misi pelestarian lingkungan, edukasi masyarakat, serta membuka peluang promosi bagi pelaku UMKM lokal. [tri/suf]






