Malang (beritajatim.com) – Keresahan publik di Malang dan Surabaya terkait kualitas Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite yang diduga menyebabkan mesin kendaraan brebet terus meluas. Menanggapi krisis ini, seorang pakar mesin dari Universitas Brawijaya (UB) angkat bicara.
Guru Besar Fakultas Teknik Mesin UB, Prof. Dr. Eng Eko Siswanto S.T., M.T., menilai langkah penanganan yang dilaporkan telah diambil pemerintah dan Pertamina sudah tepat sasaran.
Menurut informasi yang ia simak, ada dua langkah kunci yang diapresiasi. “Pihak Pertamina sudah cukup tepat sih penanganannya,” ujar Prof. Eko saat diwawancarai, Senin (3/11/2025).
Langkah tersebut, jelasnya, adalah pertama, memberi ganti rugi kepada para pemilik kendaraan yang mogok atau rusak akibat mengonsumsi Pertalite bermasalah. Kedua, menguji ulang di laboratorium pasokan Pertalite yang diduga menjadi sumber masalah, yang disebut-sebut berasal dari Tuban.
“Kalau saya baca berita kan pemerintah sudah cukup oke, dengan mengganti spare part atau apa pun yang diakibatkan oleh kerusakan itu. Kedua, menguji ulang Pertalite yang mau diedarkan,” tegasnya.
Merespons gejolak ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah memerintahkan investigasi penuh.
Saat berkunjung ke Kota Malang, Rabu (29/10), Bahlil menegaskan tim gabungan dari Ditjen Migas, BPH Migas, Lemigas, dan Pertamina Patra Niaga telah diterjunkan.
“Mereka mengambil sampel bahan bakar dari sejumlah SPBU guna memastikan apakah ada penurunan mutu atau kesalahan dalam proses distribusi,” ujar Bahlil.

Di tengah ketidakpastian kualitas di SPBU, Prof. Eko Siswanto membagikan tips unik yang ia terapkan sendiri agar terhindar dari mesin brebet.
“Alhamdulillah kendaraan saya gak mbrebet. Karena saya beli Pertalite eceran. Kan ada botol atau plastik. Kalau ada air kan terlihat,” ungkapnya.
Menurutnya, membeli BBM eceran dalam kemasan transparan saat ini bisa menjadi solusi sementara bagi konsumen untuk melakukan kontrol kualitas visual.
“Kalau di tangki Pertamina, kan gak terlihat. Saran saya konsumen beli di eceran saja. Lebih aman. Karena kalau ada air pasti terlihat,” jelasnya.
Mengenai kekhawatiran kerusakan mesin yang fatal, Prof. Eko sedikit menenangkan. Menurutnya, dampak dari Pertalite yang terkontaminasi, jika memang terbukti, umumnya tidak serius.
“Menurut saya, dampaknya hanya mogok saja. Tidak ada masalah serius. Ringan-ringan saja,” jelasnya.
Ia menambahkan, jika bahan campurannya adalah etanol seperti E10 di AS atau E100 di Brasil hal itu justru bisa menurunkan emisi karbon. Namun, jika yang tercampur adalah air, ceritanya akan berbeda. (dan/but)






