Magetan (beritajatim.com) – Gesekan antara pedagang dan pengunjung di kawasan wisata Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, kembali menjadi sorotan publik. Konflik yang terus berulang sepanjang tahun 2025 ini menimbulkan pertanyaan: mengapa insiden serupa terus terjadi di salah satu destinasi andalan Jawa Timur, dan tidakkah semua pihak belajar dari pengalaman sebelumnya?
Insiden terbaru terjadi pada Sabtu, 2 November 2025, ketika seorang pengunjung mengaku dimaki oleh pedagang sate setelah menanyakan harga makanan di sekitar area telaga. Video kejadian tersebut dengan cepat menyebar di media sosial dan menuai ribuan komentar.
Banyak warganet menyesalkan sikap pedagang yang dinilai tidak ramah terhadap wisatawan, sementara sebagian lainnya menilai perlu ada pembenahan tata kelola pedagang di kawasan wisata tersebut.
Hingga hari kejadian, Dinas terkait belum memberikan pernyataan resmi. Namun, petugas Satpol PP bersama pengelola kawasan segera melakukan penelusuran untuk mengidentifikasi pedagang yang terekam dalam video. Langkah ini diambil untuk mencegah dampak negatif yang lebih luas terhadap citra pariwisata Magetan.
Padahal, gesekan serupa telah beberapa kali terjadi di Telaga Sarangan sepanjang tahun ini. Pada 1 Agustus 2025, seorang wisatawan perempuan dimarahi pedagang warung karena membeli makanan dari pedagang keliling.
Dua hari kemudian, 3 Agustus 2025, muncul video adu mulut antara pedagang warung tetap dan pedagang keliling nasi pecel di area parkiran bawah. Situasi kembali memanas pada 16 Agustus 2025, hingga Satpol PP menurunkan tim pengawasan untuk mengatur zonasi jualan yang sering menjadi sumber ketegangan.
Kepala Bidang Pengelolaan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Magetan, Eka Radityo, menyebut pihaknya sudah berkoordinasi dengan pelaku usaha di kawasan Telaga Sarangan, termasuk paguyuban pedagang sate dan pengelola perhotelan. Ia memastikan penindakan akan dilakukan terhadap pelanggar aturan.
“Kayaknya belum ada yang sampai dikeluarkan dari paguyuban. Tapi kemarin dari paguyuban sate ada yang diberi peringatan. Dari PHRI juga pernah diberi peringatan,” ujar Eka Radityo saat dikonfirmasi, Minggu (2/11/2025).
“Nanti kami pastikan agar yang melanggar benar-benar dikeluarkan dari keanggotaan,” tegasnya.
Rentetan konflik ini menimbulkan kekhawatiran akan berkurangnya kenyamanan wisatawan, terutama menjelang musim liburan akhir tahun. Bagi sebagian pengamat pariwisata lokal, masalah yang terus berulang ini seharusnya menjadi pelajaran berharga untuk pembenahan manajemen kawasan wisata Telaga Sarangan agar tetap menjadi destinasi unggulan yang aman, tertib, dan ramah bagi pengunjung. [fiq/beq]






32 Komentar
sy sering ke telaga sarangan dan paling suka makan sate kelinci…sy sudah lihat di youtube wajah pedagang sudah hafal gak bakal beli sate ke dia…masih banyak yg ramah ke pengunjung…..
penginapan pun sering banyak penipuan mohon teliti dan berhati2 ..
males kesana cari tempat wisata lainnya sja
tempat wisata mlh jd sarang mafia !! ini yg goblok siapa ya ??!! kok sptnya mlh jd markas tukang palak, pembohong dan kejahatan lainnya. Goblok !!
jangan sampai mematikan matapencaharian hidupmu… kalau kamu hanya mementingkan egomu
sumber masalah lagi lagi dari oedagang
berarti Telaga Sarangan sfh nggak. nyaman untuk dikunjungi, cari obyeknyg kain yang lebih ramah dan humanis
pedagangnya bermental malak, biar untung gedhe karena mengangap yang dilakukan tidak diketahui publik.
saya yg orang asli mgt aja males makan dipinggir telaga pernah suatu mlm saya pesen makanan disisi Timur telaga agak keselatan yg jualan cuma makelar dipesankan ke sesama pedagang, nunggunya lama bgt,udah gitu ujung2nya byr diatas rata-rata plg dinaikkan 20ribu bukan nominal tapi cara mereka berjualan kurang pas aja
memang sarangan itu susah diatur pedagangnya kebanyakan bukan orang Magetan ….tinggal pemerintahnya semua itu
akhir agustus kemarin warga RT kami berlibur ke telaga sarangan. waktu bbrp dari kami makan di warung sate kelinci(termasuk sy dan anak²), sy dan anak² selesai duluan dan langsung bayar karena keburu mau naik kuda. selang bbrp menit teman sy bilang klo tagihan makan sy dimasukkan lg ke tagihan mereka. what??? pdhl belum ada 5 menit sy meninggalkan warung itu. seketika lgsg kudatangi warung itu dan pemiliknya auto malu dg bilang lupa.
aneh😏
sy selamanya tidak akan ke sana memang aneh2 pedagange kita kan bebas mau beli apa saja kok diributin
sy selamanya tidak akan ke sana memang aneh2 pedagange kita kan bebas mau beli apa saja kok diributin
Dulu masih SD ke telaga sarangan baru usia 54 kembali berkunjung. situasi masih nyaman di masa SD . jalan luas ombak datang saat penuh.
kemarau surut kedalaman 4-5 meter. lebih diutamakan kenyamanan santai melihat telaga dipinggir. kalau jalan semakin sempit ya tidak nyaman. paling 3 jam pulang dan tidak makan. lebih baik yang jualan gendong di depan hotel saja. di trotoar yang bersih dan lebar.
tahun lalu pesan kopi hitam 2 gelas bayar 20ribu (isinya cuma 1/3 gelas kecil) apa kebetulan bawa mobil harga/gelas naik jg y. skrg kalo pengen healing mending bablas ke Tawangmangu ato telaga ngebel. masih nyaman 😀
telaga sarangan sudah gak nyaman, jelek lingkungannya, pedagangnya resek
sy sedikit banyak kapok makan di sarangan,,penjualnya gak ramah,harganya ky resto bintang lima..
mending main ke telaga ngebel,,lebih ramah dan nyaman..
tempat wisata mlh jd sarang mafia !! ini yg goblok siapa ya ??!! kok sptnya mlh jd markas tukang palak, pembohong dan kejahatan lainnya. Goblok !!
perlu ada pembinaan dari dinas pariwisata setempat…
sayang jika image jelek ini berkepanjagan…
saya kemarin jalan2 juga gitu cari kopi n sarapan pecel dapat harga tidak normal, setinggi langit
Perlu Pembinaan yang berkelanjutan
Oo.. begitu ya..
cuma sekali kesana dan ga akan balik lagi, silahkan kalian oknum para pedagang teruskan aja kelakuan memuakkan itu hingga nanti sepi pengunjung, baru kalian tau rasa.
yg bagus, jgn dtg ke telaga sarangan biar aman .
atau bawa bekal sendiri dari rumah kalo ingin wisata ke tlg sarangan
saya kl kesana gak pernah jajan di area wisata mending diluar areatersebut
Pihak pengelola wisata harus tegas jalankan aturan. Sangsi harus jelas juga. Namanya tempat wisata ya harus bikin nyaman pengunjung. Mengapa selama ini gak ada aturan cantumkan harga di setiap menu?
Hal ini bisa mengurangi dampak buruk antara pengunjung & pedagang. Hal penting lain perlunya para pedagang sate keliling jangan memaksa dan menguntit pengunjung supaya beli. Ini biang penyebab gak nyaman
males ke telaga sarang MAFIA
aduhh wisata kok jadi sarang paksa memaksa
cari tempat lain aja
,telah menyimak dari atas kebawah postingan wisatawan tlg sarangan sebagian besar tdk nyaman dari pengelola hotel dan pedagang mngkin mnjadi perhatian khusus utk pengelola bisa dievaluasi LG ,
tidak kesana gak masalah.. era sudah berubah.. tiap kota sudah ada tempat wisata.. cari yg lebih aman & nyaman untuk berlibur… lama” numplek wisata model ngene iki… manajemen pengelolaan ora jelas
Telaga sarangan… ?! ha ha dah hilang dalam jadwal wisata kami … terlalu banyak pengalaman tak menyenangkan yg kami sekeluarga alami …
ddpn telaga sdh penuh kursi pedagang,jdi kta tdk bsa dduk mnikmati telaga..