Sidney (beritajatim.com) – Di antara deru langkah pekerja dan gemerlap lampu kota Sydney, aroma rempah Nusantara tiba-tiba menyeruak dari sebuah restoran di Pitt Street. Di sinilah Pandawa Restaurant berdiri — sebuah rumah makan halal yang menjadi tempat melepas rindu warga Indonesia sekaligus memperkenalkan kelezatan kuliner Nusantara ke warga Australia.
Bagi diaspora Indonesia dan wisatawan muslim, menemukan makanan halal dengan rasa autentik bukan perkara mudah di luar negeri. Tapi sejak Pandawa berdiri pada 2023, kerinduan itu seperti terjawab.
Restoran ini menjadi ruang pertemuan budaya, tempat di mana sambal, rendang, dan batik bisa berdialog dengan selera dunia.
“Bagi wisatawan muslim, mencari santapan halal di luar negeri sering menjadi tantangan tersendiri. Kami ingin menghadirkan cita rasa Indonesia yang autentik dan halal,” ujar Lily Tenacious Wijono, salah satu pendiri Pandawa, Selasa (21/10/2025).
Pandawa lahir dari mimpi tiga sahabat asal Indonesia — Sugiarto Wijono, Lily Tenacious Wijono, dan Antonius Auwyang — yang sama-sama merantau di Sydney. Mereka melihat peluang untuk memperkenalkan kelezatan kuliner Indonesia, tapi dengan cara yang berkelas dan modern tanpa meninggalkan keaslian.
Ketiganya sepakat, Pandawa harus lebih dari sekadar restoran. Ia harus menjadi simbol persaudaraan dan rasa cinta terhadap Tanah Air.
Ketika melangkah ke dalam ruang makan Pandawa, pengunjung langsung disambut dengan suasana hangat. Ornamen batik menghiasi dinding, alunan musik tradisional berpadu lembut dengan aroma santan, serai, dan bawang merah yang baru ditumis. Sebuah pengalaman yang membuat siapa pun serasa pulang — meski berada ribuan kilometer dari Indonesia.
“Setiap detail dari hidangan di Pandawa mewakili kekayaan cita rasa dari berbagai daerah di Indonesia. Kami bangga melihat sambutan hangat dari warga Sydney,” kata Lily.

Pandawa menyajikan deretan menu yang membawa pengunjung menjelajah rasa dari Sabang sampai Merauke. Ada Nasi Padang dan Nasi Kapau Minang lengkap dengan gulai tambusu, gulai cubadak, hingga paru balado yang menggugah selera.
Bagi pencinta kuliner Jawa Timur, Rawon Surabaya, Soto Betawi, Sop Buntut, dan Ikan Bakar Jimbaran Sambal Matah menjadi pilihan yang tak pernah sepi peminat. Untuk suasana santai, tersedia Ayam Geprek Cobek, Nasi Uduk, hingga Bakso Pandawa yang digemari komunitas pelari dan mahasiswa Indonesia di Sydney.
Sementara untuk penutup, Es Doger, Es Cendol, dan Es Teler menjadi nostalgia rasa yang seolah membawa pengunjung pulang ke kampung halaman. “Untuk hidangan penutup, kami ingin pengunjung tetap merasakan kekhasan Indonesia, bahkan lewat minuman seperti Es Doger dan Es Teler,” tambah Lily.
Sejak berdiri, Pandawa berkembang pesat. Dalam waktu dua tahun, restoran ini mencatat lebih dari 6.500 ulasan Google dengan rating 4,9 dari 5, menjadikannya restoran Indonesia dengan penilaian tertinggi di Australia.
Namun bagi para pendirinya, keberhasilan ini bukan sekadar angka. Pandawa adalah bentuk nyata dari semangat diaspora Indonesia untuk membawa harum nama negeri di luar batas geografi.
“Nama Pandawa kami ambil dari tokoh pewayangan Jawa yang menjunjung nilai kebenaran, persaudaraan, dan kesetiaan. Nilai-nilai itu kami bawa ke dalam pelayanan, resep, dan suasana,” jelas Antonius Auwyang.
Sugiarto Wijono menambahkan, Pandawa berdiri dengan satu visi: memperkenalkan Indonesia di panggung global melalui rasa dan keramahan. Bagi mereka, kuliner bukan sekadar bisnis, tetapi bahasa universal yang menyatukan perbedaan.
“Kami ingin menjadikan Pandawa destinasi kuliner nomor satu di dunia dengan cita rasa Nusantara yang menyatukan selera di panggung global,” ujar Sugiarto Wijono.
Kini, setiap piring yang keluar dari dapur Pandawa membawa kisah tentang rumah, identitas, dan kebanggaan. Dari sambal hingga senyum ramah pelayan, semuanya menjadi bagian dari cerita besar: tentang Indonesia yang hadir di hati Sydney — lewat rasa yang tak pernah hilang dari ingatan. [way/beq]

as a preferred source on Google




