Indonesia sering disebut sebagai negeri agraris, tanah yang subur dan kaya hasil pertanian. Tapi ironisnya, masih banyak masyarakat yang belum cukup makan. Data terbaru tahun 2024 mencatat, sekitar 8,29 persen penduduk Indonesia mengalami ketidakcukupan konsumsi energi, artinya kebutuhan pangannya belum terpenuhi dengan baik.
Masalah ini bukan semata karena kita kekurangan produksi pangan. Faktanya, sebagian besar bahan pangan hilang di perjalanan dari sawah ke meja makan inilah yang disebut food loss.
Saat musim panen tiba, petani biasanya akan memilah hasil panennya berdasarkan ukuran dan bentuk. Buah dan sayur terbaik yang besar, mulus, dan seragam akan dikirim ke pasar modern atau pembeli besar. Sementara yang ukurannya tidak sama, bentuknya bengkok, atau warnanya sedikit berbeda, sering kali tidak masuk ke segmen pasar utama. Padahal, hasil panen yang “tidak sempurna” itu tetap segar dan bergizi. Hanya saja, ia kalah cantik di mata pasar. Kebiasaan ini berlanjut hingga ke konsumen. Di pasar tradisional, pembeli akan memilih buah yang paling mulus dan sayur yang terlihat paling segar. Di swalayan pun sama konsumen cenderung mengambil produk dengan bentuk dan warna paling menarik.
Lalu, ke mana perginya buah dan sayur yang tidak terpilih?
Tak jarang, buah dan sayur yang tak dipilih ini akhirnya berakhir di tempat pembuangan akhir. Setiap hari, truk-truk pengangkut sampah dari pasar membawa berton-ton limbah organik sebagian besar berasal dari produk pertanian yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan. Bayangkan, hasil kerja keras petani dari ladang dan kebun justru berakhir membusuk di tumpukan sampah hanya karena bentuknya tidak sempurna.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan baik sebagai produsen maupun konsumen?
Bagi produsen, khususnya petani, penting untuk lebih bijak dalam memperlakukan hasil panennya. Segmentasi pasar memang perlu diperhatikan, tetapi seluruh hasil panen baik yang masuk kategori “grade pasar” maupun yang disebut ugly produce tetap layak untuk diolah dengan cara yang benar. Produsen bisa mulai bekerja sama dengan UMKM pengolah pangan, komunitas sosial, atau platform digital yang menampung hasil panen tak sempurna untuk diolah menjadi produk baru seperti jus, selai, keripik, atau pakan ternak. Langkah sederhana ini bisa menekan kehilangan pangan (food loss) di tingkat produsen.
Sementara itu, konsumen juga punya peran besar. Kita bisa mulai lebih bijak dalam berbelanja: tidak hanya memilih produk yang tampil sempurna, tapi membeli sesuai kebutuhan. Mengubah cara pandang: buah bengkok, tomat kecil, atau wortel tak simetris bukan berarti tidak layak. Misalnya, untuk membuat jus, tak perlu mencari buah yang bentuknya ideal karena toh akan dihancurkan juga. Simpan buah dan sayur terbaik untuk dikonsumsi segar, dan manfaatkan yang bentuknya tak sempurna untuk olahan lain.
Menghargai setiap hasil panen, sekecil apa pun, adalah langkah sederhana namun bermakna besar. Dari tangan petani hingga dapur rumah tangga, setiap buah dan sayur yang terselamatkan berarti satu langkah lebih dekat menuju sistem pangan yang lebih adil, berkelanjutan, dan tanpa pemborosan. Ketika makanan terbuang, bukan hanya nilai ekonominya yang hilang, tetapi juga seluruh sumber daya yang digunakan untuk memproduksinya. Setiap butir beras yang tidak dimakan berarti ada air, pupuk, tenaga, dan energi yang terbuang sia-sia.
Begitu pula dengan buah dan sayur yang membusuk di tempat pembuangan akhir semua itu melepaskan gas metana, gas rumah kaca yang kekuatannya 25 kali lebih besar dari karbon dioksida dalam memicu pemanasan global. Bayangkan, jika food loss dapat dikurangi separuh saja, maka emisi gas rumah kaca dari sektor pangan juga akan menurun secara signifikan. Jadi, persoalan ini bukan hanya tentang pangan yang hilang atau orang yang kelaparan, tetapi juga tentang masa depan planet kita.
Langkah-langkah kecil dari produsen dan konsumen sebenarnya bisa membawa perubahan besar. Dengan memanfaatkan hasil panen secara maksimal, kita menekan timbunan limbah organik yang berpotensi mencemari udara dan memperburuk iklim. Artinya, setiap buah bengkok, sayur layu, atau hasil panen yang tak sempurna yang berhasil kita selamatkan, bukan sekadar menyelamatkan pangan tetapi juga ikut menyelamatkan bumi. [Tri Ratnasari, Mahasiswa Program doktor S3 Llmu Pertanian Universitas Jember]






