Ponorogo (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo meminta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan kajian ulang terhadap Sesar Grindulu, jalur patahan aktif yang melintasi wilayah selatan Ponorogo. Langkah itu dinilai penting untuk memperbarui peta risiko gempa di Bumi Reog yang trennya menunjukkan peningkatan dalam satu dekade terakhir.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, menyampaikan bahwa berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana 2025–2030, gempa bumi termasuk dalam lima prioritas bencana daerah. Walau potensi tsunami dinyatakan nihil karena posisi Ponorogo jauh dari laut, potensi guncangan akibat pergerakan lempeng di darat tetap perlu diwaspadai.
“Secara faktual ada Sesar Grindulu yang melewati Ponorogo, yaitu di Kecamatan Ngrayun dan Bungkal. Lalu lurus ke selatan yaitu di Pacitan. Namun aktif tidaknya perlu dikaji kembali oleh BMKG,” kata Masun, Jumat (17/10/2025).
Masun menegaskan, keberadaan Sesar Grindulu bukan hal baru, namun perlu penelitian geologi terbaru untuk memastikan tingkat aktivitasnya. Sebab, jika sesar tersebut menunjukkan pergerakan signifikan, dampaknya bisa dirasakan hingga ke permukiman warga di Ponorogo bagian selatan.
“Gempa bumi ini memiliki tingkat risiko sedang dan kecenderungan trennya naik dalam 10 tahun terakhir,” jelasnya.
BPBD Ponorogo menilai sinergi antara lembaga teknis seperti BMKG dengan pemerintah daerah mutlak diperlukan. Kajian geologi dan pemetaan ulang sesar menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan penanggulangan bencana berbasis data ilmiah.
Dengan mitigasi yang konsisten, dukungan teknologi, serta kesadaran masyarakat yang terus tumbuh, Ponorogo diharapkan mampu membangun sistem ketangguhan bencana yang adaptif dan berkelanjutan. [end/beq]






