Pacitan (beritajatim.com) – Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 46 Pacitan resmi memulai kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Gedung BLK Sidoharjo, Pacitan. Berbeda dengan SRMA 23 atau SRMA 1A, MPLS kali ini melibatkan tidak hanya siswa, tetapi juga orang tua untuk ikut serta.
Plt Kepala Dinas Sosial Kabupaten Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, menjelaskan bahwa keterlibatan orang tua bertujuan agar mereka memahami peran penting keluarga dalam mendukung anak-anak yang menempuh pendidikan dengan sistem asrama.
“Berkaca dari pengalaman Tahap 1A, ada 12 siswa yang mundur diawal. Karena itu, kami mengundang orang tua untuk ikut dibekali materi agar lebih siap mendampingi anak-anak,” terangnya, Jumat (3/10/2025).
Khemal menegaskan tantangan terbesar sekolah rakyat bukan pada fasilitas atau kebutuhan materi, melainkan menjaga motivasi siswa agar tetap bersekolah. Karena itu, peran keluarga dinilai krusial.
“Sekolah ini tidak hanya peran guru, tapi juga peran keluarga. Setiap pekan keluarga diberi kesempatan menjenguk agar anak-anak tetap semangat,” tambahnya.
Saat ini Dinsos Pacitan masih membuka rekrutmen untuk memenuhi kuota 100 siswa atau empat rombongan belajar. Fokus utama diarahkan pada anak-anak putus sekolah yang sebelumnya enggan melanjutkan pendidikan.
“Dari 52 anak yang ikut Tahap 1C ini, mayoritas adalah anak-anak yang awalnya tidak mau sekolah, lalu direkrut kembali. Edukasi kepada keluarga menjadi faktor paling penting agar anak-anak mau melanjutkan pendidikan,” jelas Khemal.
Dengan sistem asrama yang dikombinasikan dukungan keluarga, program Sekolah Rakyat di Pacitan diharapkan mampu menjadi solusi nyata bagi anak-anak putus sekolah untuk kembali mendapatkan kesempatan belajar. [tri/beq]






