Sidoarjo (beritajatim.com) – Runtuhnya bangunan tiga lantai dan musala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Petugas mengungkap ada tujuh korban yang masih dalam keadaan terimpit reruntuhan di lantai dasar sektor A2, Kamis (2/10/2025).
Korban terhimpit itu diduga memiliki status hitam (tidak ada tanda kehidupan). Petugas Tim SAR sedang berupaya mencari dan mengevakuasi seluruh korban dengan menggunakan dukungan alat berat, seperti Crane.
Kasubdit RPDO (Pengarahan dan Pengendalian Operasi) Bencana dan Kondisi Membahayakan Manusia (KMM) Basarnas, Emi Freezer, mengatakan tujuh korban tersebut kondisinya terhimpit balok besar.
“Tujuh orang yang ada di sektor A2 posisinya berada di lantai dasar. Dan itu posisinya di bawah himpitan balok besar. Tidak bisa dievakuasi, kalau tidak struktur atas ini diangkat (menggunakan alat berat),” kata Emi Freezer di Posko Pencarian, Kamis (2/10/2025).
Freezer menjelaskan, penggunaan alat berat hari ini terus dipacu agar korban segera dapat terevakuasi. Sebab, kata dia, selain ini menjadi harapan seluruh keluarga, petugas juga mempertimbangkan efek buruk dari fase dekomposisi mayat.
“Kenapa ini segera berpindah (metode pencarian), karena apa? Fase dekomposif, pembusukan itu (terjadi) satu kurang dari 12 jam. Kemudian fase kedua kurang dari 24 jam. Fase ketiga lebih dari 48 jam akan terjadi penyebaran hal yang dapat memberikan dampak itu karena ini adalah unsur kimiawi dan biologis yang dikeluarkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, bahwa saat ini bau tidak sedap sudah mulai tercium hingga ke pemukiman warga.
“Kita dari sini saja kadang-kadang sampai sini kita tercium dan itu bisa ter-absorb lewat pernapasan. Bahkan, juga bisa melalui permukaan kulit karena kita di sini daerahnya cukup panas temperatur tinggi kita pasti basah,” ucap Freezer.
Seperti diketahui, runtuhnya bangunan tiga lantai termasuk musala di asrama putra Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, itu terjadi pada Senin (29/9/2025) sore.
Saat kejadian, diketahui ada ratusan santri yang sedang menunaikan salat Ashar berjemaah di gedung yang masih dalam tahap pembangunan tersebut.
Berdasarkan data sementara Tim SAR Gabungan hingga Kamis (2/10/2025), tercatat total 108 orang menjadi korban dalam insiden memilukan tersebut. Rinciannya, 18 korban dievakuasi petugas dengan 5 di antaranya meninggal dunia, sedangkan sisanya berhasil menyelamatkan diri secara mandiri.
Meskipun demikian, diperkirakan hingga hari ini, masih ada puluhan korban yang dilaporkan hilang yang kemungkinan berada di bawah reruntuhan sebanyak 59 orang. (rma/ted)






