Tulungagung (beritajatim.com) – Minuman tradisional cendol dawet yang lekat dengan suasana pasar kini bertransformasi melalui sentuhan teknologi modern. Tim Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri mendampingi pelaku UMKM cendol di Tulungagung agar lebih profesional dan berdaya saing lewat Program Kemitraan Masyarakat (PKM).
Program ini dipimpin Danang Erwanto, S.T., M.T. (dosen Prodi S-1 Teknik Elektro) bersama Dr. Lina Saptaria, S.Pd., M.M. (Prodi Manajemen), Iska Yanuartanti, S.T., M.T. (Prodi Teknik Elektro), serta dua mahasiswa, Naili Sa’adatin Najwa (Teknik Industri) dan Yoga Pebri Aprilia (Teknik Elektro). Pendampingan dilakukan dari aspek produksi hingga pemasaran.
Sebelum ada intervensi, produksi cendol UMKM masih manual dengan kapasitas terbatas, mutu tidak konsisten, dan kemasan polos tanpa identitas merek. Pemasaran hanya menjangkau pasar tradisional.
Namun setelah pendampingan, UMKM Era Muda Berjaya (EMB) Group mulai menggunakan mesin pengaduk dan pencetak otomatis, menerapkan SOP higienis, dan mengikuti pelatihan manajemen keuangan. Hasilnya, kapasitas produksi meningkat dari 900 menjadi 1.200 bungkus per hari dengan kualitas lebih konsisten dan waktu produksi lebih efisien.
Dari sisi pemasaran, usaha ini didorong untuk memanfaatkan media sosial. Dalam tiga bulan, akun Instagram resmi usaha berhasil meraih lebih dari 500 pengikut dengan interaksi naik 40 persen. Pesanan pun mulai datang dari luar Tulungagung. Identitas usaha semakin kuat dengan adanya logo, label, serta kemasan higienis bersegel. Survei konsumen menunjukkan 75 persen responden lebih tertarik pada kemasan berlabel.
Ketua tim PKM UNISKA Kediri, Danang Erwanto, menegaskan bahwa inovasi sederhana dapat berdampak besar. “Teknologi tidak harus rumit. Bahkan untuk usaha cendol sekalipun, penerapan inovasi dan digitalisasi bisa meningkatkan daya saing,” ujarnya.
Mitra usaha, Alfian Indra Febian, pemilik EMB Group, mengaku puas dengan hasil pendampingan. “Dulu saya hanya bisa jualan di pasar dan lingkup sekitar rumah. Setelah ada pendampingan ini, produksi jadi lebih ringan, kemasan lebih bagus, dan banyak pelanggan baru yang pesan lewat Instagram. Omzet juga meningkat. Saya merasa usaha ini jadi lebih maju dan punya masa depan,” tuturnya.
Program ini didanai melalui hibah PKM dari Kemendiktisaintek tahun anggaran 2025 dan menjadi bukti bahwa tradisi bisa beradaptasi dengan teknologi, branding, dan pemasaran digital. [nm/beq]






