Jember (beritajatim.com) – Atap ruang Kelas 6 di Sekolah Dasar Negeri Gebang 01, Jalan Cempaka Nomor 1, Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendadak ambrol pada siang bolong, Senin (25/8/2025).
Sekitar pukul satu siang, Luvianti, wali Kelas 6, sedang duduk sendirian di kursinya. Ruang kelas sudah lengang, karena 26 orang siswa sudah pulang lima belas menit sebelumnya. Sebagian pulang, sebagian lagi mengikuti ekstrakurikuler drum band.
Mendadak suara berdebum terdengar di salah satu pojok belakang ruangan kelas itu. Atap runtuh. Luvianti kaget bukan kepalang. “Untung kelas sudah kosong,” katanya kepada Beritajatim.com.
Luvianti memanggil satpam untuk memeriksa kondisi atap tersebut. “Kata Pak Satpam, atapnya dimakan rayap,” katanya.
Rencananya para siswa Kelas 6 akan direlokasi di Laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam selama atap kelas diperbaiki. “Rencana saya pada awal September mereka sudah menempati ruangan lagi,” kata Kepala SDN Gebang 01 Maria Eva Titik Sunarko.
Maria juga mengundang Komite SDN Gebang 01 untuk membicarakan persoalan ini. “Komite akan saya datangkan untuk melihat kondisinya dan segera menindaklanjutinya. Karena kebetulan Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) memang sudah dianggarkan tahun ini. Jadi tidak bisa diutak-atik lagi,” katanya.
Ternyata bukan atap ruang Kelas 6 saja yang pernah runtuh. Maria mengatakan, atap ruang guru ambrol pada Maret 2025, disusul ruang Kelas 5A. Sementara itu, ruang Kelas 2 mengalami kebocoran. “Air mengucur di sela-sela eternit,” katanya.
Atap ruang guru sempat ambrol gara-gara tidak kuat menahan kucing yang mendekam di sana. Beberapa waktu kemudian sisa-sisa pecahan atap kembali ambrol dan mengenai kepala Maria. Dia bersyukur tidak terluka.
Berdasarkan pengamatan Maria, katu di ruang Kelas 3 dan Kelas 4 perlu juga diganti. Dengan banyaknya ruang yang harus diperbaiki, Maria menyebut dana BOS tidak mencukupi. Setiap tahun dia hanya bisa mengalokasikan 20 persen dari Rp 180 juta untuk perbaikan sarana dan prasarana.
“Rencana saya melapor ke Dinas Pendidikan, mungkin ada bantuan. Mungkin loh ya. Saya sendiri juga belum tahu, karena kalau saya enggak lapor, saya salah, Jadi tetap saya laporkan kalau kondisi SD Gebang 01 seperti ini,” kata Maria.
Maria akan bekerja sama dengan Komite SDN Gebang 01 untuk memperbaiki secara bertahap ruang kelas yang mendesak diperbaiki. “Tahun depan saya anggarkan perbaikan bangunan. Tidak di-full-kan. Pak. Tetap kita bagi rata sesuai dengan anggarannya. Hanya saya fokuskan, pembangunan gedung dilakukan awal tahun agar tidak membahayakan anak-anak, karena biasanya awal tahun musim penghujan,” katanya.
Saat ini, Maria memutus sambungan listrik di semua ruang kelas agar tidak membahayakan siswa. “Kemarin ditemukan di kipas ada air yang nandon (menjadi kubangan) di situ. Itu membuat listrik njeglek (terputus mendadak),” katanya.
Wakil Ketua DPRD Jember Widarto mengatakan perlunya pemerintah daerah untuk bekerja keras memperoleh ekstra dana dari pemerintah pusat agar bisa memperbaiki semua gedung sekolah. “Apalagi yang sudah kejadian seperti kali ini di SDN Gebang 01,” katanya.
“Penting bagi kita untuk memastikan sekolah-sekolah itu tak rusak, tapi bagaimana terpenuhinya sarana dan prasarana pendidikan, karena itu merupakan upaya kita meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia di sektor pendidikan,” kata Widarto.
Selain beasiswa kuliah, menurut Widarto, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan sangat penting. “Pendidikan yang baik harus diawali dengan sarana dan prasarana yang memadai. Itu pekerjaan rumah kita. Saya yakin kalau hanya mengandalkan APBD tidak cukup. Apalagi kalau betul dana transfer daerah dari pusat dikurangi. Kita harus bekerja keras mendapatkan program-program langsung dari Kementerian ke daerah,” katanya. [wir]






