Malang (beritajatim.com) – Niat baik untuk berbagi kebahagiaan dan mendukung budaya lokal berakhir dengan kekecewaan mendalam bagi seorang ulama sekaligus akademisi di Kota Malang.
Dr. Imam Muslimin, atau yang akrab disapa Yai MIM, mengaku ditolak dan diusir saat hendak ikut memeriahkan acara lomba patrol yang digelar warga di Kampung Ndesan, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun. Insiden yang menyisakan rasa pilu itu terjadi pada Minggu, (24/8/2025), sekitar pukul setengah delapan malam.
“Saya dalam perjalanan pulang dari Masjid Al-Firdaus menuju kediaman saya di RW 5 Karangbesuki. Mendekati area kelurahan di RW 3, terjadi kemacetan yang cukup panjang. Saya tanyakan kepada penduduk setempat, ternyata ada lomba patrol yang diikuti oleh 12 RT,” tutur Imam Muslimin mengawali ceritanya, Senin (25/8/2025) pada beritajatim.com.
Melihat antusiasme warga dalam menggelar acara seni tradisional, hati Yai MIM yang juga seorang pemerhati dan pecinta budaya tergerak. Terjebak dalam kemacetan, ia memutuskan untuk turun dari mobilnya dan berinisiatif untuk bergabung, sekaligus memberikan apresiasi kepada para peserta.
“Kebetulan, salah satu koleksi jam tangan saya terjual dengan harga yang cukup bagus, dan saya ingin berbagi kebahagiaan berupa uang tunai sebagai tanda dukungan dan karena kecintaan saya terhadap budaya lokal,” jelasnya.

Yai MIM sempat berbaur dengan hangat, berkomunikasi, dan berjalan bersama rombongan peserta lomba patrol di rute-rute awal. Namun, kebersamaan itu tak berlangsung lama. Saat rombongan melintas di dekat area Pesantren Anwarul Huda asuhan Al-Maghfurlah Romo KH. M. Badruddin Muslich, ia dihampiri oleh seorang yang diduga petugas keamanan lomba.
Tanpa basa-basi, oknum tersebut memintanya untuk pergi dan meninggalkan area lomba.
“Sudah saya jelaskan bahwa saya mencintai kegiatan lomba seperti ini dan saya warga Karangbesuki, namun petugas keamanan lomba tetap saja tidak mau mendengar,” sesal Yai MIM.
Yai MIM, yang berdomisili di RT 07/RW 05 Kelurahan Karangbesuki, menduga kuat bahwa penolakan tersebut terjadi karena penampilannya. Malam itu, ia mengenakan pakaian khasnya sebagai ulama, berupa jubah, sorban, lengkap dengan imamah (lilitan sorban di kepala).
“Saya hadir dengan pakaian yang merupakan identitas dan tradisi keulamaan, justru diduga menjadi alasan saya tidak bisa diterima di lokasi lomba di Kampung Ndesan tersebut,” ujarnya dengan nada kecewa.
Padahal baginya, busana tersebut adalah bagian dari tradisi yang seharusnya dihargai, sama seperti kesenian patrol yang juga merupakan sebuah tradisi.
Kekecewaan itu semakin mendalam karena niat tulusnya untuk berbagi rezeki kepada seluruh peserta lomba menjadi sirna. Inez (Rosida Vignesvari), istri Yai MIM, membenarkan bahwa mereka telah menyiapkan dana yang tidak sedikit.
Yai MIM sebelum ditegur keamanan sempat berkomunikasi dengan warga (Foto: Doc Pribadi)
“Saya membawa dana khusus untuk kami bagikan ke seluruh peserta lomba, masing-masing orang Rp 1 juta,” ujar Inez, yang dibenarkan oleh Yai MIM dengan anggukan kepala.
Insiden ini terasa semakin ironis mengingat latar belakang Yai MIM (59). Ia adalah seorang Dosen Perguruan Tinggi Islam Negeri yang pernah belajar tentang Pendidikan Bahasa Arab dan Budaya Islam di Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Lebih dari itu, darah pecinta budaya mengalir dalam dirinya dari para leluhurnya.
Dari jalur ayah, ia merupakan keturunan cucu ke-6 dari Sunan Ampel (Sayyid Rahmatillah) Surabaya. Silsilahnya adalah: ayahnya bernama Mardhi atau Muhammad bin Karyantono (Sayyid Muhammad Amali), bin Mentheg (Sayyid Ahmad Musa Hambali), bin Mbah Bendo (Muhammad Abi Yusuf), bin Hasan, bin Sayyid Rahmatillah (Sunan Ampel).
Sementara dari jalur ibunya, nasabnya bersambung kepada Sunan Bonang (Sayyid Makhdoum Ibrahim). Kedua leluhurnya tersebut merupakan bagian dari Wali Songo yang dikenal luas menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya dan kesenian. (dan)







1 Komentar
Mohon maaf penulisan nama pengasuh PP. Anwarul Huda SALAH harusnya Romo KH. Muhammad Baidlowi Muslich