Udine (beritajatim.com) – Kontribusi Gianluigi Donnarumma mempersembahkan quadruple musim lalu lenyap hanya dalam sehari. Ya, Lucas Chevalier tampil gemilang ketika membawa Paris Saint-Germain juara Piala Super Eropa mengalahkan Tottenham Hotspur dini hari tadi.
Tetapi, bagi entraineur PSG Luis Enrique, keberadaan Chevalier bukan sekadar menggantikan Donnarumma secara posisi. Melainkan juga dari gaya permainan. Ya, Chevalier adalah sweeper-keeper.
Pada laga di Stadio Friuli, Udine, Chevalier total mencatatkan 24 operan dengan tingkat akurasi 91,7 persen dilansir Who Scored. Itu jadi modal baginya untuk memenuhi ambisi Enrique yang ingin mendominasi pertandingan dari segala lini dan posisi.
Sedangkan Gigio–sapaan Donnarumma–kurang piawai melakukannya. Meski dia brilian menjadi shot-stopper, gaya Donnarumma adalah kiper “jadul”.
Sebagai perbandingan, statistik operan Chevalier vs Donnarumma di Ligue 1 musim lalu sangat timpang. Chevalier mencatatkan 936 operan dengan 722 di antaranya sukses. Sedangkan Donnarumma dengan 542 operan yang berujung 463 di antaranya berhasil.
Statistik itu jadi salah satu pertimbangan Chevalier yang memenangi kiper terbaik Ligue 1 musim lalu. Padahal, Donnarumma membawa PSG juara.
“Dia (Chevalier, Red) baru saja bergabung tetapi sukses membuktikan kualitasnya. Di PSG, Anda harus bisa mengatasi tekanan. Chevalier melakukannya dengan baik yang berujung trofi pada debutnya,” puji Enrique dilansir BBC.
Wajar jika Lucho–sapaan Enrique–sangat menginginkan Chevalier. Sebab, kiper 23 tahun itu mengingatkannya kepada Claudio Bravo dan Marc-Andre ter Stegen ketika memenangi quintuple bersama FC Barcelona sedekade silam.
Bravo dan Ter Stegen juga berkarakter sweeper-keeper. Mereka meneruskan “tradisi” Blaugrana ketika dilatih Pep Guardiola yang memiliki Victor Valdes.
“Berkostum PSG sangat menantang karena aku menggantikan kiper hebat (Donnarumma, Red). Aku masih muda dan dukungan dari rekan setim bisa menguatkan mental saat berlaga,” ujar Chevalier. (dio)






