Bondowoso, (beritajatim.com) – “Lebih baik pulang, Nak. Di sini ada ibu. Jadi pembantu atau kuli pun tak apa, yang penting selamat dan kumpul keluarga.”
Kalimat lirih itu keluar dari mulut Atim, ibu kandung Hartatik, saat ditemui di kediamannya di Desa Taal, RT2/RW1, Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso, Minggu (3/8/2025).
Suara Atim terdengar serak, matanya tampak basah—menahan rindu dan kekhawatiran yang selama ini hanya bisa ia pendam dalam doa-doa malam.
Atim bercerita, Hartatik (43) adalah anak perempuannya. Sepuluh tahun lalu, putri yang ia besarkan dengan penuh kasih memilih merantau ke Malaysia setelah pernikahan pertamanya kandas. Ia ingin mandiri dan mengubah nasib.
“Saya sudah larang. Tapi dia tetap ingin pergi. Katanya mau kerja, cari uang untuk anak-anaknya,” tutur Atim dengan suara parau.
Selama beberapa tahun, Hartatik bekerja pada seorang majikan asal India. Namun, setelah bos tempatnya bekerja wafat, kehidupan anaknya mulai berubah. Tekanan kerja, lingkungan baru, dan situasi yang jauh dari keluarga membuatnya terjebak dalam hubungan yang tidak mudah.
“Dia sempat bilang: ‘Bu, saya gak kuat. Saya mau lari saja.’ Hati saya hancur waktu dengar itu,” kata Atim.
Hartatik kemudian mengenal seorang pria asal Sabah bernama Ali, yang kemudian menjadi suaminya. Meski awalnya Atim menolak, Hartatik tetap melangsungkan pernikahan jarak jauh secara siri.
Ayahnya menjadi saksi melalui video call, dan seorang ustaz dari Jember memandu prosesi sederhana itu.
Namun, seiring waktu, kehidupan rumah tangga Hartatik kembali diuji. Ia kerap mengadu kepada ibunya bahwa suaminya berubah menjadi sosok yang mudah marah dan kasar.
“Sudah empat kali dia cerita dipukul. Terakhir katanya dipukul di kepala. Saya hanya bisa bilang sabar, karena saya di sini gak bisa bantu apa-apa,” kata Atim, terisak.
Puncaknya terjadi delapan bulan lalu. Hartatik kembali melarikan diri. Kali ini ke wilayah Johor. Di sana, ia ditolong oleh seorang rekan yang menawarinya pekerjaan.
Namun pelariannya tidak berlangsung lama. Suaminya menyusul dan kembali membawanya ke tempat yang jauh dari keramaian.
“Dia dibawa ke tempat yang katanya jauh dari kota, dekat hutan. Awalnya suaminya baik, tapi lama-lama kasar lagi. Bahkan anaknya sendiri juga diperlakukan kasar,” ucap Atim, mencoba menahan amarah.
Selama di Malaysia, Hartatik tak banyak bisa mengirim uang. Dari penghasilannya yang tak menentu, ia hanya sempat mengirim Rp 500 ribu untuk cucu dan ibunya. Itu pun tak setiap bulan.
“Kadang katanya kerja seharian cuma dapat 40 ringgit (Rp 120 ribu). Kalau ada uang, baru kirim. Tapi seringnya ya tidak ada kabar,” tutur Atim.
Sebagai ibu, Atim tak meminta apa-apa, kecuali keselamatan anaknya. Ia ingin Hartatik pulang, berkumpul kembali dengan keluarga yang selalu mencintainya.
“Di sini banyak pekerjaan. Jadi pembantu pun tak apa. Yang penting tidak sendiri. Saya gak tahu anak saya makan apa di sana. Sepuluh tahun dia kerja, tapi hasilnya gak ada. Saya cuma ingin dia pulang,” kata Atim menatap kosong ke jalan setapak depan rumah.
Kini, setelah video curhatan Hartatik yang mengungkap penderitaannya viral, Atim berharap bantuan dari pemerintah bisa segera membawa putrinya pulang. (awi/but)






