Bojonegoro (beritajatim.com) – Belum lama ini, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah melepasliarkan burung Serak Jawa (Tyto Alba) untuk mengendalikan penyebaran hama tikus yang mengganggu produktivitas pertanian. Terutama tanaman padi. Sebanyak 25 ekor burung top predator dalam rantai makanan ekosistem sawah itu dilepaskan di area persawahan sekitar Desa Nguken Kecamatan Padangan Kabupaten Bojonegoro.
Pelepasan predator hama tikus sawah itu merupakan salah satu upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro untuk menjadi produsen padi terbesar di Jawa Timur. Sedangkan posisi Kabupaten Bojonegoro saat ini masih berada diurutan ketiga sebagai lumbung padi terbesar dibawah Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Lamongan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, produksi gabah di Bojonegoro pada 2024 sekitar 985 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG).
Sedangkan, dua kabupaten tetangga yang berbatasan dengan Bojonegoro itu, produksi gabahnya lebih besar. Di Kabupaten Lamongan pada peringkat pertama dengan produksi mencapai 1,12 juta ton GKG dan urutan kedua, Kabupaten Ngawi dengan jumlah produksi sekitar 1,05 juta ton GKG. Era pemerintahan Bupati Setyo Wahono ini, berambisi menggeser Kabupaten Ngawi. Sehingga, pertanian menjadi salah satu program prioritas.
Pegiat Poverty Resource Center Initiative (PRCi) Kabupaten Bojonegoro, Aw Syaiful Huda mengungkapkan, Pemkab Bojonegoro pernah merilis adanya perluasan kawasan yang gagal panen akibat serangan hama tikus. Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro, pada tahun 2020 hama tikus menyerang sekitar 2.940 hektar lahan pertanian di 17 kecamatan, meningkat dibanding tahun sebelumnya, sekitar 1.228 hektar di 14 kecamatan.
Pada tahun 2019, serangan hama tikus sawah paling parah berada di Kecamatan Baureno (290 Hektar), Balen (264 Hektar), Dander (181 Hektar), Kepohbaru (136 Hektar) dan Kanor (113 Hektar). Pada tahun 2020 bergeser, paling parah terjadi di Kecamatan Kepohbaru (806 hektar), Kapas (580 hektar), Balen (579 hektar), Kanor (423 hektar) dan Dander (200 hektar).
Menurut Syaiful, hewan jenis vertebrata yang memiliki nama Rattus argentiventer (tikus sawah) ini cukup produktif dan cerdas. Mereka memiliki kemampuan mempelajari situasi lingkungan dengan cepat, mudah curiga jika terjadi perubahan di lingkungannya, punya indera penciuman yang tajam, serta termasuk hewan sosial yang suka berkomunikasi satu sama lain. Berkoloni. Berkembangbiak dengan cepat.
“Di beberapa daerah sudah ada yang memiliki inisiatif dan best practices untuk mengendalikan hama tikus. Diantaranya pemanfaatan jenis tanaman Refugia untuk menghalau tikus serta pemanfaatan burung hantu (Tyto alba) sebagai predator hama tikus sawah,” ujarnya, Kamis (31/7/2025).
Hanya saja, metode pengedalian ini tidak bisa diterapkan secara instan, dibutuhkan upaya pengembalian ekosistem yang mendukung pelestarian burung hantu di suatu daerah. Mulai dari melakukan penangkaran, membangun rumah burung hantu, hingga upaya menjaga habitat mereka dari tangan-tangan jahil, pemburu dan lain sebagainya.
“Agar strategi pengendalian hama tikus sawah dengan metode pendekatan ramah lingkungan ini bisa efektif, dibutuhkan kesadaran kolektif dari semua pihak; pemerintah, masyarakat dan para petani,” jelasnya seperti dalam tulisan yang pernah dipublikasikan dalam website atmago.com.
Dalam sebuah skripsi yang disusun oleh Syamsudin Nur Majid, dengan judul Studi Etologi Pada Burung Hantu (Tyto alba) Sebagai Sumber Belajar Berbentuk Poster Materi Ekosistem Kelas X, menjelaskan, Serak Jawa (Tyto alba) adalah jenis burung pemangsa yang mempunyai peran sangat penting dalam lingkungan yaitu sebagai (Top Predator) atau pemangsa puncak dalam rantai makanan ekosistem sawah (Eriandra, 2015: 451).
Burung hantu, dalam penyusunan skripsi mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang 2020, menyebut metode pengendalian hama tikus dengan menggunakan burung hantu disebut metode paling efektif oleh para petani di Desa Tlogoweru, Demak, Jawa Tengah. Tyto alba mampu memangsa 3.600 ekor tikus dalam setahun. Ia memiliki kemampuan mendengar suara tikus dalam radius 500 meter dan dengan kemampuan jelajah sekitar hingga 12 kilometer.
Pendengaran yang tajam, mendukung burung yang juga disebut oleh masyarakat Jawa dengan istilah Kokok Beluk itu dalam berburu. Burung tersebut berburu pada malam hari, sehingga disebut sebagai burung nocturnal. Para petani menganggap burung ini lebih efektif secara ekonomi daripada penggunaan racun dalam mengatasi serangan binatang mengerat, sehingga mereka menyediakan tempat untuk burung ini bersarang supaya mau tinggal (Harris dan Bacynski, diakses pada 29 Juli 2019).
Sementara Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bojonegoro, Zainal Fanani, mengungkapkan, upaya dalam pelestarian burung hantu sudah dilakukan di beberapa daerah yang memiliki tingkat risiko besar tanaman padi petani diserang hama tikus. Program yang dilakukan dengan menyediakan rumah burung hantu (rubuha) di beberapa titik serta melepasliarkan burung hantu.
Meski tidak ada hasil kajian yang dilakukan oleh DKPP terhadap efektivitas burung hantu dalam mengendalikan hama tikus, namun pihaknya menilai bahwa keberadaan Rubuha dinilai sangat strategis untuk pelestarian burung hantu dalam upaya meningkatkan hasil pertanian tanpa bergantung pada pestisida kimia.
“Kalau kajian tidak ada. Tapi dari pengalaman yang kita peroleh, bahwa burung hantu itu bisa makan sampai 3 ekor tikus dalam sehari. Dan bisa membunuh sampai 12 ekor tikus semalam,” tambahnya.
Sementara, beberapa daerah atau desa yang sudah ada rumah burung hantu dari hasil program DKPP Bojonegoro, seperti di Desa Ngradin, Cendono, Betet, dan Desa Nguken, Kecamatan Padangan, serta Desa Semlaran, Kecamatan Malo, dan Desa Sumengko Kecamatan Kalitidu. Sayangnya, di Kabupaten Bojonegoro belum ada pelestarian atau budidaya burung hantu. Burung hantu yang dilepasliarkan saat ini masih membeli dari daerah lain. [lus/kun]






