Ponorogo (beritajatim.com) – Lalu lintas di Ponorogo rupanya masih jadi panggung pelanggaran, dan kali ini para pelajar justru muncul sebagai pemeran utamanya. Fakta ini terkuak usai berakhirnya Operasi Patuh Semeru 2025, yang digelar mulai 14 hingga 27 Juli oleh Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Ponorogo.
Dari 8.924 pelanggaran yang tercatat selama operasi, lebih dari separuhnya justru dilakukan oleh anak-anak usia sekolah. Mereka masih belum punya Surat Izin Mengemudi (SIM), tak memakai helm, atau mengendarai sepeda motor tanpa kelengkapan standar.
“Kalau dibandingkan dengan Operasi Patuh Semeru tahun lalu, tahun ini ada peningkatan dalam penindakan hukum,” kata Kasatlantas Polres Ponorogo, AKP Bayu Pratama Sudirno, ditulis Kamis (31/7/2025).
Lebih rinci, dari 8.924 pelanggaran itu, sebanyak 5.418 pelanggar hanya mendapat teguran, sedangkan 3.484 lainnya dikenai sanksi tilang. Dari jumlah tersebut, pelanggaran yang paling sering ditemukan adalah pengendara yang belum memiliki SIM, kendaraan tanpa kaca spion, serta boncengan motor tanpa helm.
“Yang sering terjadi, pelajar berboncengan naik motor, yang depan pakai helm, tapi yang belakang tidak. Ini masih kerap kita temui di lapangan termasuk pada saat operasi,” jelas Bayu.
Fenomena ini membuat Satlantas tidak hanya mengandalkan pendekatan represif, namun juga merangkul metode edukatif. Satlantas pun aktif menyambangi sekolah-sekolah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan. Edukasi ini dimaksudkan untuk menanamkan budaya tertib berlalu lintas sejak dini.
“Setiap pagi kami juga terjunkan personel untuk pengaturan lalu lintas. Kami imbau pelajar yang sudah cukup umur segera mengurus SIM,” ungkap AKP Bayu.
Operasi Patuh Semeru memang telah berakhir, namun penegakan hukum masih berjalan seperti biasa. Bayu menegaskan bahwa pelanggaran tetap akan ditindak jika ditemukan, terutama jika sifatnya membahayakan dan terlihat jelas oleh petugas.
“Ketika operasi patuh selesai, budaya tertib berlalu lintas tetap harus dijalankan. Jika memang masih ditemukan pelanggaran kasat mata ya tetap kita tindak,” pungkasnya.
Dengan meningkatnya angka pelanggaran yang melibatkan pelajar, Satlantas kini punya pekerjaan rumah besar. Yakni menjadikan keselamatan sebagai budaya, bukan hanya kewajiban saat ada razia. (end/ian)






