Ponorogo (beritajatim.com) – Terselip pesan menyentuh di tengah momen bahagia penyerahan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan bagi 378 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo. Wakil Bupati Ponorogo, Lisdyarita, tak hanya mengucapkan selamat, tetapi juga menyampaikan pesan khusus, terutama bagi para PPPK perempuan.
“Selamat, selamat, selamat kepada teman-teman yang baru diangkat PPPK ini,” kata Lisdyarita, yang akrab disapa Bunda Rita, dari panggung Pendopo Agung Pemkab Ponorogo, Kamis (24/7/2025).
Dalam sambutannya, Bunda Rita mengaku hatinya bergetar. Dia paham betul perjuangan panjang yang ditempuh para tenaga honorer, sebelum akhirnya resmi menyandang status ASN melalui jalur PPPK. Proses yang tak mudah dan penuh persaingan, menurutnya, harus dijawab dengan dedikasi yang lebih tinggi ke depan.
“Ini hasil kerja keras kalian semua. Terima kasih dedikasinya selama ini. Manfaatkan kepercayaan ini untuk bisa lebih baik lagi ke depan,” pesannya.
Bunda Rita menegaskan, tidak ada unsur “titipan” dalam proses seleksi PPPK. Mereka yang menerima SK hari itu adalah mereka yang benar-benar berjuang melalui jalur murni, bersaing dengan ratusan peserta lain.
“Ini tidak ada titip-menitip, murni hasil kerja keras mereka sendiri. Apa yang didapat hari ini dipertahankan, harus bekerja lebih baik lagi,” tegasnya.
Namun yang paling menyita perhatian adalah nasihat personal yang Dia tujukan kepada PPPK perempuan, khususnya yang sudah berkeluarga. Dalam nada tulus namun tegas, Bunda Rita mengingatkan agar para perempuan yang kini berstatus ASN tidak melupakan pondasi utama dalam kehidupan, yakni keluarga.
“Pesan ketika terima SK PPPK, harus pertahankan. Karena dalam proses ini ada doa dari suami dan keluarga. Pertahankan keluarga yang sudah utuh. Jadi ketika istilahnya sekarang sudah jadi orang, terus berubah. Tidak boleh itu,” tutur Bunda Rita.
Pesan itu seolah menjadi refleksi atas fenomena yang sempat mengemuka di daerah lain. Diketahui, belakangan ini publik dikejutkan oleh kabar dari Blitar, di mana sebanyak 20 guru perempuan berstatus PPPK menggugat cerai suami mereka, diduga karena alasan penghasilan yang tak lagi sebanding.
Bunda Rita berharap kejadian semacam itu tidak terulang di Bumi Reog. Dia mengajak semua PPPK perempuan untuk tetap membumi, menjaga keluarga, dan tak melupakan doa serta dukungan yang menyertai perjuangan mereka hingga titik ini. (end/kun)






