Ponorogo (beritajatim.com) – Minimnya jumlah peserta didik baru di sekolah dasar negeri (SDN) menjadi perhatian dari DPRD Ponorogo. Ada 8 SDN tercatat nihil siswa baru pada tahun ajaran 2025/2026. Menyikapi kondisi ini, legislatif mendesak adanya evaluasi menyeluruh. Sekolah harus dengan pendekatan yang lebih inovatif dan adaptif.
Wakil Ketua DPRD Ponorogo, Evi Dwitasari, menekankan pentingnya inovasi dalam sistem pendidikan dasar. Dia menyayangkan pola lama yang masih bertahan di sejumlah SDN, yakni dengan mengajar, dan lalu pulang tanpa adanya terobosan untuk meningkatkan daya tarik sekolah.
“Intinya SDN harus ada inovasi, karena masalah kekurangan siswa itu terjadi setiap tahun,” kata Evi, Jumat (18/7/2025).
Menurutnya, sekolah perlu membangun keunikan atau nilai lebih yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Penguatan pada sisi ekstrakurikuler, pendidikan agama, pembentukan karakter, hingga peningkatan prestasi akademik disebutnya sebagai langkah konkret yang bisa dilakukan.
“Intinya, SDN itu harus berinovasi. Karena persoalan kekurangan siswa ini sudah terjadi bertahun-tahun. Kalau tidak berubah, ya akan terus kalah bersaing,” tegasnya.
Lebih lanjut, Evi tidak sepenuhnya sejalan dengan opsi regrouping sekolah. Merger beberapa SDN, menurutnya, belum tentu membawa dampak positif. Dia mencontohkan kasus SDN Banyudono yang sudah digabung dengan sekolah lain, namun tetap kesulitan menjaring murid baru.
“Setelah digabung, jumlah muridnya juga tetap sedikit. Artinya, bukan itu solusinya,” ujarnya.
Evi menegaskan bahwa evaluasi terkait SPMB 2025 nanti, jangan hanya berhenti di tataran administratif. Harus ada pembacaan yang jeli terhadap dinamika masyarakat, termasuk persaingan dengan lembaga pendidikan swasta dan madrasah. Daya saing SDN perlu dibangun bukan hanya dari gedung dan fasilitas, tetapi dari program unggulan yang bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh orang tua. (ADV/end/but)






