Bojonegoro (beritajatim.com) — Di tengah keterbatasan infrastruktur dan akses teknologi, ratusan sekolah di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mulai menapaki jejak digitalisasi. Sejak tahun 2021 hingga 2023, sebanyak 144 sekolah di Bojonegoro telah menerima bantuan laptop Chromebook dari pemerintah pusat, sebagai bagian dari upaya nasional dalam mempercepat transformasi pendidikan berbasis teknologi.
Langkah ini menjadi angin segar, terutama bagi sekolah-sekolah yang selama ini kesulitan mengakses fasilitas teknologi informasi. Dari jenjang SD hingga SMA, serta Sekolah Luar Biasa (SLB), distribusi perangkat dilakukan secara bertahap selama tiga tahun. Sebanyak 15 unit laptop disalurkan ke masing-masing sekolah, lengkap dengan perangkat pendukung seperti proyektor dan akses internet.
Bantuan tersebut tak hanya datang sebagai perangkat keras, tetapi juga membawa perubahan cara pandang terhadap sistem pembelajaran. Seperti yang dirasakan SMP Islam Kedungbondo, Kecamatan Balen, salah satu penerima bantuan. Kepala SMP Islam Kedungbondo, Mahfud, mengungkapkan bahwa laptop tersebut kini aktif digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar digital oleh seluruh siswanya yang berjumlah 36 anak.
“Alhamdulillah, semua unit masih berfungsi baik. Para guru pun memanfaatkannya untuk keperluan administrasi sekolah. Ini benar-benar membantu kami yang selama ini minim fasilitas,” ujar Mahfud, Jumat (18/7/2025).
Hal serupa juga diutarakan Ainul Hafidz, guru informatika SMAN 1 Balen, yang juga menerima bantuan serupa pada 2022. “Laptop masih bagus kondisinya dan digunakan saat ujian serta pembelajaran berbasis komputer. Semua siswa bisa ikut merasakan manfaatnya,” jelasnya.
Di sisi lain, perhatian terhadap proyek pengadaan Chromebook juga tengah menjadi sorotan di tingkat nasional. Kejaksaan Agung saat ini sedang menyelidiki dugaan korupsi dalam proyek pengadaan 1,2 juta unit laptop Chromebook oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada periode 2019–2022.
Proyek bernilai Rp9,3 triliun ini ditengarai berpotensi merugikan negara hingga Rp1,98 triliun. Empat tersangka telah ditetapkan dalam kasus ini, termasuk sejumlah pejabat di lingkungan Kemendikbudristek saat itu. Meski demikian, di lapangan termasuk di Bojonegoro manfaat dari program ini tetap dirasakan nyata oleh para siswa dan guru.
Bantuan Chromebook sejauh ini tidak hanya menghadirkan perangkat teknologi, namun juga memberi peluang pemerataan pendidikan digital di wilayah yang selama ini belum terjangkau. [lus/but]






